Saya Bermimpi Menjadi Koruptor
Bagian Ketiga dari Pemimpin Sejati
Oleh : Andreas Hassim adalah seorang pemimpi
Siang itu saya bermimpi telah menjadi teknokrat dengan berbagai fasilitas dan tetap bersikukuh pada idealisme. Dalam mimpi itu saya akan berangkat ke kantor dengan mobil mewah dan ditemani oleh seorang supir. Pesan saya kepada supir saya adalah tolong antarkan saya ke kantor dengan selamat dan patuhilah seluruh rambu yang ada. Tak berapa lama saya terhenti oleh lampu merah di antara perempatan jalan, tapi apa yang dilakukan supir pribadi saya, dia terobos lampu merah itu dan kami berhasil melewati lampu lalu lintas tersebut dengan aman. Tapi sontak saya langsung memarahi supir saya dan berkata “apa kamu tidak lihat lampu merah itu?” Lalu jawabnya, “Iya pak saya lihat lampu itu tapi banyak orang yang seperti kita pak, toh kita bisa lebih cepat dan terhindar dari kemacetan.” Kata saya kepada supir saya, “Tahukah kamu, kalau tindakan tadi dapat membahayakan orang lain seperti penyebarang jalan ataupun mobil dari arah lainnya.” Lalu supir saya menjawab kembali, katanya: “Iya pak tapi terbukti kita aman kan?” Kemudian dengan nada tegas saya berkata lagi, “Apapun yang terjadi patuhi rambu lalu lintas, saya tidak mau lagi kamu melanggar aturan yang telah dibuat”. Dengan nada lemas supir saya menjawab, “Baik Pak selanjutnya saya akan patuhi rambu-rambu yang ada.” Tak lama berselang sampailah kami di perempatan dan lampu merah pun kembali menyala, dengan senyum saya bergumam wah supir saya sudah mengerti maksud saya dalam menjalankan disiplin. Belum selesai saya bergumam, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras yang membuat mobil mewah saya terguncang. Ternyata mobil di belakang saya menabrak dari belakang. Spontan saja supir pribadi saya berkata, “Tuh kan pak kalo saya terobos lampu ini tentu tidak terjadi hal ini.” Kalau masalah di jalan raya Bapak serahkan pada saya karena memang saya ahlinya. Tak bisa berkata-kata lagi, saya hanya diam dan supir saya mengurus kejadian ini hingga usai.
Ilustrasi di atas ingin menggambarkan bahwa sulit sekali menjalankan hidup sesuai dengan aturan mainnya. Siapkah kita tetap teguh pada kebenaran walaupun harus berada pada jalur lambat untuk kaya ataupun malah rugi. Tak ada suatu janji bahwa yang benar itu pasti menang dan yang jahat itu pasti kalah, tapi yang ada adalah yang kuat pasti menang. Andai saja saya seorang “God Father” yang dapat mengatur semuanya. Menurut saya hanya orang-orang abnormal yang mampu dan mau seperti itu. Bahkan orang itu akan disebut “gila” atau (maaf) “guoblok”. Anda mau?
Berpegang teguh pada prinsip harus dibayar sangat mahal, dan dapat saya katakan bangsa ini sangat butuh orang-orang seperti itu untuk memacu kesejahteran yang berkeadilan sosial. Kalau orang pintar di negeri ini sebenarnya banyak mulai dari zaman Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Mba Mega dan Pak SBY, mereka dikelilingi dengan orang-orang pintar. Bagaimana tidak, mereka banyak yang lulusan universitas terbaik di dunia dengan seabreg gelar. Apa yang terjadi ketika orang-orang pintar itu diminta menangani pemerintahan, mari kita lihat dari zaman-zaman. Di sini saya tidak memojokkan siapa pun karena kesemuanya adalah orang-orang terbaik di negeri ini dan terbukti mereka adalah pemimpin bangsa yang dihormati.
Soekarno (Orde Lama)
Jasa bung Karno bersama timnya tidak dapat dipungkiri lagi, beliau pendiri bangsa ini meletakkan fondasi dasar negara ini terbentuk. Beliau membawa nama bangsa ini disegani di seantero dunia. Kepribadiannya yang tidak mau disetir oleh “Barat” atau yang disebutnya sebagai bahaya laten penjajahan terselubung lewat jalur perkonomian. Pada zaman Bung Karno praktis imperialis modern tidak berkutik. Tapi disamping itu banyak hal-hal luar biasa, zaman ini juga tak luput dari kelemahan dan salah satu hal yang mengkhawatirkan rakyat kondisi perekonomian yang morat marit ditandai dengan angka inflasi selangit dan sempat terjadi senering (Uang Rp 1000 menjadi bernilai Rp 1). Mahasiswa zaman Soe Hok Gie terus mengkritisi pemerintahan Soekarno sampai akhirnya pemerintahan ini jatuh.
Soeharto (Orde Baru)
Secara pribadi saya sangat setuju jika Soeharto diberi gelar Bapak pembangunan. Pada 32 tahun pemerintahannya beliau telah membangun banyak sekali infrastruktur. Selain itu pembangunan dengan terencana yang dikenal dengan repelita (rencana pembangunan lima tahun) ampuh membawa negara ini mencapai pertumbuhan ekonomi yang kencang kalo saya tidak salah di tahun 90-an rata-ratanya di atas 7%. Swasembada pangan di akhir 80-an berhasil dicapainya, sampai-sampai saat ini banyak orang ingin bernostalgia akan kesuksesan repelita. Berbagai penanaman modal asing masuk ke negara ini, terutama perusahaan penambangan sumber daya alam dan pada zaman ini kita mulai terlena dengan utang luar negeri. Bagaimana dengan kontrak Freeport di Irian, apa ini dosa rezim Soeharto? Bagaimana dengan aset minyak kita dari dulu sampai sekarang Pertamina hanya asyik menjual produk jadi, kapan bisa menjadi exxon-nya Indonesia? Bagaimana hutan kita dijarah? Kemudian pada sektor pertaninan kita masih ingat praktik monopoli cengkeh, karet, tomat, jeruk dll yang menyebabkan kesemuanya rusak bahkan beberapa komoditas sempat hilang dari peredaran. Kalau diamati, zaman ini membangun negara di atas pilar-pilar beberapa konglomerat di lingkarannya saja. Militer menjadi alat pemerintah dalam membangun kondisi kondusif yang semu. Keserakahan lingkaran ini membangun gunung permasalahan yang akhirnya meletus dengan krisis moneter tahun 1998 dan dampaknya masih sangat terasa saat ini. Lagi-lagi anak muda dalam hal ini mahasiswa mendorong kejatuhan rezim ini.
Zaman Reformasi (Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY)
Pada orde reformasi, Pak Habibie meneruskan pemerintahan yang sedang karut marut sepeninggal orde baru, Rupiah jeblok di atas Rp 16.000 per USD, Perbankan kolaps, pertumbuhan ekonomi minus, rasio utang luar negeri (pemerintah dan swasta) dibanding PDB di atas 100%. Kondisi parah dan tidak kondusif secara ekonomi dan politik saat itu membuat Indonesia ditinggalkan oleh para investor. Perlahan tapi pasti Pak Habibie yang hanya memimpin sekitar 517 hari dapat membawa Rp bertengger di Rp 6.800 walau akhirnya kembali naik ke Rp 9.000an sampai akhirnya digantikan oleh Gus Dur.
Dengan agenda reformasi yang dibawa sebagai amanat rakyat, pemerintahan Gus Dur mulai membangun perekonomian namun rezim ini tak dapat berbuat banyak karena hanya 1,5 tahun berkuasa. Alm Gus Dur merupakan idola saya, namun sayang waktunya terlalu singkat. Tindakan-tindakan ekstremnya yang terlihat nyeleneh dianggap sebagian masyarakat tidak etis dilakukan oleh seorang Kepala Negara. Selain itu tindakan ekstremnya telah mengganggu kekuasaan para “God Father”. Hal-hal sperti itu dimanfaatkan oleh lawan politiknya lewat isu-isu korupsi dan beliau dijatuhkan. Buat saya beliau pemimpin visioner yang mungkin saat ini tindakannya tidak dimengerti karena beliau sudah melihat jauh ke depan sementara saya hanya mampu melihat sesuatu yang ada di depan saya saja karena keterbatasan ilmu pengetahuan serta talenta. (maaf kalau untuk hal ini saya tidak netral, karena saya sangat kagum terhadap beliau dan sempat bercita-cita mencium tangan beliau, namun tak pernah kesampaian, hebatnya lagi pagi-pagi saat mengedit tulisan ini saya sudah bermimpi menyalim tangan tangan beliau).
Estafet kepemimpinan dilanjutkan Mba Mega selama 3,5 tahun. Kalau mengingat masa ini saya jadi bingung dengan kampanye tahun kemarin. Coba lihat divestasi BUMN pada zaman ini. apa saya yang salah ingat ? Seingat saya banyak BUMN diobral pula pada zaman ini. Saya tidak menyalahkan kebijakan divestasinya tapi yang saya pertanyakan kampanyenya kok tidak konsisten.
Kebijakan divestasi ditempuh karena memang negeri ini perlu uang banyak dalam waktu singkat guna membangun dan menambal persoalan-persoalan masa lalu. Ketika masa bakti itu selesai, Mba Mega digantikan Pak SBY yang sebelumnya menjadi bagian dari kabinet mba Mega yang katanya dizalimi. Salah satu hal yang membuat popularitas Pak SBY melejit. Sosok Pak SBY yang tenang membawa kondisi kondusif selama pemerintahannya periode pertama, walau diterjang pelbagai bencana beliau berhasil membangun kabinet yang solid sehingga kondisi perekonomian menjadi stabil dan terus mengalami kenaikan pertumbuhan ekonomi disamping prestasi pengungkapan berbagai kasus korupsi yang sebelumnya hanya berupa mimpi di siang bolong.
Namun pada awal periode kedua kepemimpinananya muncul banyak sekali masalah terutama berbagai kasus penegakkan hukum. Dunia demokrasi sepertinya dimanfaatkan para lawan politiknya untuk mencari celah bisa berperan banyak dalam menentukan kebijakan publik. Kebijakan kebijakan publik yang rentan terhadap “penumpang gelap”. Di balik itu semua warga kita mudah lupa, tahun 98 ekonomi kita terempas paling parah di antara negara ASEAN, tapi sekarang negara kita paling tahan di antara negara ASEAN, apa ini bukan prestasi disamping kekurangan lainnya? Apa tidak ada jasa kebijakan publik yang telah dibuat? Bahkan saking lupanya lembaga yang niatnya untuk menjaga stabilitas perbankan dengan sistem asuransi simpanan pun dituntut untung dari penyelamatan bank. Apa ini sesuai dengan tujuan dasar pembentukannya? Saya jadi lupa semuanya.
Kebijakan Publik selalu rentan dengan penumpang gelap
Kebiajakan publik yang rentan dengan penumpang gelap, sudah banyak kita alami. Ingat ketika pemerintah ingin mengejar ekspor dibuatlah kebijakan suku bunga ekspor lebih kecil dari suku bunga deposito. Apa yang terjadi, hal ini dimanfaatkan dengan ekspor bodong sehingga spreadnya dapat dinikmati. Bagaimana nasib si pembuat kebijakan dihukum karena merugikan negara???
BLBI lebih dari 600 Trilyun untuk menambal sistem keuangan pada tahun 1998, kalau tidak diselamatkan, semakin banyak bank ditutup, banyak perusahaan tidak dapat kredit, perusahaan-perusahaan akan ketakutan akan masa depannya, mereka akan pecat banyak karyawannya, super multiplier effect yang akan mengantar kepada kebangkrutan yang makin parah, coba dibayangkan, jika hal yang saya tulis ini terjadi, makin parah bukan? Namun sayang keputusan ini banyak diselewengkan “pengusaha maling dan oknum pejabat”. Misal saya punya bank yang akan dibailout. Dengan asumsi kredit macet Rp 1T, namun saya telepon si “oknum pejabat” bahwa saya perlu dana Rp 1,5 T dan Rp 0,5 T kita bagi-bagi dan saya pergi keluar negeri yang tidak ada perjanjian ekstradisi dengan Indonesia atau saya operasi wajah dan ganti identitas, semua akan beres karena saya punya uang walau uangnya uang setan. Nah sebaliknya kalau bank saya dilikuidasi, DPK saya Rp 1 T namun saya bilang kepada “oknum pejabat” ada Rp 1,5T sisanya kita bagi-bagi. Lagi-lagi saya kabur ke luar negeri. Asal anda tahu sampai detik ini APBN masih menanggung beban Obligasi Rekap(OR) sebagai bagian dari penyelamatan bank tahun 98. Berapa nilainya? OR masih di atas Rp 100 T, kalau beban bunganya 6% saja setahun, berapa kuponnya? Saya rasa masih lebih besar dari angka penyelamatan Bank Century yang “katanya uang rakyat”. Jangan lupa ini terjadi setiap tahun sampai pemerintah menebus surat utangnya saat jatuh tempo. Ada toh bank yang labanya diisi oleh APBN??? Terus apa yang dilakukan para teknokrat? Bisa apa melihat kenyataan ini??? Maling-maling sudah belasan tahun kabur.
Bagaimana aset yang sudah diselamatkan pemerintah? Sebut saja salah satu bank terbesar di republik ini dijual sekitar Rp 5-10 T tapi punya tagihan kepada pemerintah hampir Rp 30T. Siapa yang gak mau beli bank ini, hanya orang yang guoblok dan yang gak punya uang (seperti saya, hehe) yang gak mau beli bank ini. Apa salah kebijakan ini??? Tidak absolut salah karena pemerintah sangat butuh uang saat itu. Ini baru satu perusahaan, belum lagi yang lain-lain. Siapa yang salah? Kebijakan publik pasti mengundang penumpang gelap untuk duduk di dalamnya. Bagaimana dengan Bank Century? Sepertinya kemungkinan adanya penumpang gelap pada kebijakan publik sangat besar, yang saya bingung kok hanya pengambilan keputusan sistemiknya yang terus-terusan dicecar. Kenapa tidak terus ditelusuri aliran dananya? Nama fiktif? Cari nota transfernya, sapa yang melakukan transfer, sepertinya mustahil tak dapat diungkap, kan banyak intelijen canggih di negeri ini. Kok gak bisa nangkap orang-orang ini? Apa ada lagi si “God Father”??? Berani pasang badan menghancurkan si “God Father”? Walaupun nyawa jadi taruhannya? Nurani saya bertanya bagaimana dengan istri saya yang cantik, bagaimana dengan anak-anak saya yang lucu-lucu, bagaimana dengan nyawa saya dan bagaimana dengan keluarga & orang-orang yang saya cintai apakah mereka akan terancam? Berbagai perangkap akan dipasang supaya saya masuk bui dan dihukum mati. Ini fakta dre, kamu berani? Pertanyaan dari nurani saya yang sulit saya jawab.
Pemimpin Sejati
Gonjang ganjing politik yang saat ini terjadi sungguh sangat disayangkan. Ketika ACFTA sangat merisaukan perekonomian domestik, kita bersusah payah rebutan “kue” politik. Apakah bangsa kita diciptakan hanya untuk menjadi budak? Bangsa yang miskin? Suami kawan saya asal Jerman yang pernah bersekolah di Australia mengatakan bangsaku dan bangsamu kaya. Ketika itu saya bercengkrama di sebuah restoran urban kitchen Pacific Place (pamer dikit dong, jarang2 neh, hahaha). Kata si bule : “Lihat sepanjang Sudirman banyak sekali mal-mal mewah. Padahal di Jerman yang pernah menjadi negara pengekspor nomor wahid tidak ada mal secanggih dan sebanyak ini begitu pula di Australia. Hal ini juga diaminkan teman saya yang bekerja di Korea. Saya yang belum pernah kemana-mana ya manggut-mangut saja. Sambil berpikir, jangan-jangan bangsaku hanya disuruh bekerja dan habiskan uang di mal untuk membeli produk-produk “si asing”. Kapan bangsa ini bisa produktif kalo perkelahian dimulai di jajaran elit yang tidak jelas juntrungannya. Sampai kapan bung?
Siapa yang rugi bung? Apakah si wakil rakyat pernah gak bisa makan gara-gara ga ada yang bisa dimakan, rakyat makin guoblok karena ga bisa sekolahkan anaknya bukan hanya karena uang sekolah tapi mereka harus kerja bahkan dijual. Pernahkan mereka yang tiap hari itu sidang berpikir bagaimana kalau hal itu menimpa anaknya? Diculik untuk human trafficking??? Bagaimana perasaan mereka? Teman sebangku anggota itu bilang, itukan urusan Departemen Perdagangan. Inikah penggoblokan masal yang dimulai di gedung anggota dewan yang terhormat. Ayolah bung bersihkan hati Anda dari kepentingan di luar memajukan bangsa ini.
Ingatkah dengan Jenderal Sudirman yang dalam kondisi sakit memimpin perang, lihat gak nyali Pattimura menyerang benteng Durstede (ini saya lupa, kalo gak salah ya, hehe), kemudian Cut Nyak Dien yang tanpa kompromi melawan Belanda hanya bagi kemerdekaan bangsa ini. Masakan dari 240 juta manusia Indonesia tidak ada 1%nya(2,4 juta) orang-orang sehebat mereka. Ya sudah kalo tidak ada 1%, 0,1% deh berarti 240 ribu. Siapa saja? Anda bung! Anda pasti bisa jika niat tulus bahwa hidup adalah ibadah. Karena ada apa yang dicari di dunia yang fana ini? Dan percayalah hukum tabur tuai pasti berlaku. Negeri ini butuh orang-orang abnormal seperti Anda! Orang pintar tapi “gila” karena tidak pernah memanfaatkan fasilitas yang anda miliki saat ini untuk kepentingan menguntungkan diri sendiri. Bagaimana anda manfaatkan 8 jam kerja yang dipercayakan kepada Anda oleh perusahaan. Kepercayaan itu pun dibayar dengan gaji yang kita terima, halalkah itu? Tak tahan juga nurani saya berteriak, “ Jangan tiru saya yang sering nyolong waktu buat ke pantry, buat fesbukan, buat ngobrol, buat ngomongin atasan, buat ngegosipin luna maya, mengeluh dan lain-lain. Kemudian yang lebih parah saya sering menjelek-jelekan perusahaan yang memberi makan saya dengan cemoohan, padahal saya tidak pernah berani keluar dari zona nyaman ini, bahkan ketika tawaran menggiurkan sekalipun. Kok sampah seperti saya berani ngajarin banyak hal? Tak terbayangkan kalau negeri ini hanya diisi secara rata-rata orang seperti saya? Isinya hanya orang konsumtif yang tidak produktif menjadikan kita budak selamanya. Tapi saya percaya jika orang Indonesia di rata-rata pembaca yang terhormat maka yang terjadi negeri ini akan melejit menggantikan dominasi China sebagai pengekspor nomor satu kemudian menggantikan AS sebagai negara adidaya. Mari kita kutip quote Aa Gym, “Mulailah dari hal kecil, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah saat ini”
Tak terasa sudah dini hari dan jika diteruskan akan semakin ngaco, supaya tidak ngaco maka saya akhiri tulisan ini dengan pekikan MERDEKA atau MATI, mari diterjemahkan sesuai tujuan utama hidup kita masing-masing. Saya ingin melanjutkan mimpi saya kembali. Zzztttzzzttt. Salam. Andreas Hassim (25 Januari 2010)
Tulisan ini tidak bermaksud menjelek2an siapapun, hanya ingin mengupas kenyataan hidup yang sebenarnya sudah kita ketahui. Mohon maaf jika tulisan otokritik ini menggunakan bahasa sarkasme shg melukai hati bpk & ibu sekalian. Terimakasih atas waktu yang diluangkan untuk membaca tulisan ini. Semoga tulisan ini memberi motivasi bagi kita membangun negeri ini menjadi lebih baik terutama bagi mereka yang terpinggirkan
Minggu, 31 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Adakah anda telah mencari bantuan kewangan segera? Anda memerlukan pinjaman segera untuk membayar hutang dan bil yang sedia ada? Sedang mencari perniagaan dari rumah dan pinjaman peribadi, sila hubungi kami sekarang dengan maklumat di bawah.
BalasHapusNama anda:
status:
kerja:
Jantina:
Nombor Telefon:
Jumlah pinjaman:
jangka masa:
Tujuan pinjaman?
Nota: Semua jawapan hendaklah hadapan Hubungi kami sekarang di: anitacharlesloancompany@gmail.com atau anitacharlesloancompany@mail.com Terima kasih kerana datang.