Minggu, 31 Januari 2010

Persaingan Merebut DPK

Persaingan Merebut DPK
Investor Daily 21 Januari 2010
Bagian kedua dari dua tulisan (Bagian kedua PR Perbankan 2010)
Oleh: Djoko Retnadi dan Andreas Hassim, keduanya pengamat dan praktisi perbankan

Setidaknya ada dua fenomena yang perlu dicermati perbankan dalam menentukan strategi di tahun 2010. Pertama, likuiditas yang masih seret dan kedua, suku bunga kredit yang tinggi. Untuk dapat mengubah tantangan menjadi peluang yaitu agar bank dapat menjawab kebutuhan nasabah, maka diperlukan strategi pengembangan bisnis yang dapat menciptakan keunggulan khusus ataupun diferensiasi.
Kondisi persaingan memperebutkan likuiditas sangat menarik disimak. Di manakah kantong-kantong DPK tersebut dan bagaimana karakter konsumennya serta bagaimana strategi menangkap kue besar tersebut. Selain itu kecenderungan bank-bank mengalihkan porsi kredit korporasinya ke kredit UMKM dan konsumsi yang memiliki margin tebal dan kebal terhadap krisis mengakibatkan suku bunga relatif masih bertahan tinggi.

Mencari Peluang Likuiditas
Berdasarkan statistik perbankan Bank Indonesia Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun Bank Umum mencapai Rp 1.846 Milyar di mana 10 propinsi utama di Indonesia menguasai hampir 90% DPK. Dari 90% DPK di 10 propinsi tersebut 60-70% berada di perkotaan yang menjadi pusat perniagaan sebut saja Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Medan, Samarinda, Banten, Denpasar, Makassar dan Pekanbaru. Bahkan untuk kota Jakarta porsi DPK-nya hampir 50% dari total DPK dan sepertinya pertarungan sengit perburuan DPK akan sangat seru mengingat masyarakat kota sudah sangat bank minded.
Keseharian masyarakat kota yang sangat dinamis tak bisa lepas dari layanan jasa perbankan. Mulai dari aktivitas usaha sampai pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka akan bergantung kepada jasa perbankan yang kian memudahkan aktivitas mereka. Aktivitas masyarakat kota terutama di ibukota yang tidak pernah terhenti selama 24 jam membuat bank wajib berinovasi sehingga mampu menjawab kebutuhan para penabung.
Jenis DPK yang digemari perbankan tentunya adalah DPK berbiaya murah yang tidak sensitif oleh harga. Hal ini tentunya ditemukan pada segmen individu atau ritel daripada segmen korporasi yang sudah sangat pintar dalam pricing bahkan beberapa korporasi mampu mendapatkan suku bunga kredit lebih rendah dibandingkan suku bunga depositonya karena memiliki bonafiditas. Sehingga akan lebih menguntungkan jika bank fokus pada nasabah individu dan ritel untuk memenuhi kebutuhan ekspansi kredit produktifnya maupun konsumsinya.
Pada segmen aktivitas usaha, bank memiliki produk giro, di mana pada produk ini keterhubungan antar sesama rekan bisnis sangat menentukan seorang pebisnis dalam memilih bank. Tentunya layanan dengan jaringan kerja yang luas dan biaya yang kompetitif dapat menjadi kunci sukses. Sedangkan untuk produk tabungan, saat ini merupakan kebutuhan pokok setiap keluarga. Berbagai fasilitas seperti pembayaran listrik, telepon, air yang merupakan rutinitas sudah bergantung pada kemudahan yang diberikan bank.
Dengan struktur PDB yang didominasi konsumsi rumah tangga yaitu mencapai 60%, maka segala macam proses transaksi dapat menggunakan layanan jasa perbankan. Aktivitas usaha dan konsumsi masyarakat perkotaan dapat menjadi sumber Fee Based Income (FBI) bagi perbankan. Bank yang jeli berinovasi dalam melihat perkembangan masyarakat perkotaan yang dinamis dapat membuat setiap individu bergantung kepadanya sehingga dapat menghasilkan pendapatan yang berkesinambungan.
Selain itu orang-orang kaya cenderung tinggal di perkotaan dan mereka merupakan potensi yang sangat besar untuk dapat dieksplorasi. Data tahun 2006 menyebutkan bahwa ada 18.000 rekening orang Indonesia di Singapura dengan total nominal mencapai 70 Miliar USD. Produk-produk prioritas dan wealth management yang sudah lebih dahulu menjamur di luar negeri membuat para orang kaya Indonesia membawa keluar uangnya, karena memang di Indonesia mereka belum menemukan produk-produk yang diharapkan. Berkaca dari hal ini sudah saatnya kita berbenah memperbaiki dan mengembangkan layanan prioritas guna menjadi magnet bagi uang-uang mereka di luar negeri. Seharusnya bankir lokal lebih mengerti budaya orang-orang Indonesia sehingga memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Menciptakan loyalitas nasabah, mempunyai jaringan kerja yang luas dan layanan yang lengkap serta komunikasi yang efektif kepada para nasabah dapat dijadikan kunci untuk memenangkan persaingan memperebutkan DPK di perkotaan.

Peluang Perkreditan
Beralihnya bank-bank dalam penyaluran kredit dari segmen korporasi ke kredit UMKM dan kredit konsumsi membuat suku bunga relatif masih tinggi di tahun 2010. Apalagi kredit UMKM didominasi oleh kredit mikro yang sangat digemari mengingat margin keuntungannya tebal. Selama ini kondisi pasar kredit mikro bersifat oligopoli dimana hanya beberapa bank yang menguasai sehingga dapat menentukan harga. Kondisi ini sebenarnya membuka peluang bagi bank yang memiliki kemampuan akses ke pelosok Tanah Air dan memiliki struktur dana murah. Dan agar lebih baik lagi jika ditambah dengan pemanfaatan teknologi yang baik sehingga dapat menekan biaya. Selain itu bank dapat melakukan bundling produk kredit mikro dengan layanan transaksi yang dapat menghasilkan FBI sebagai ganti margin tebal tersebut.

Kolaborasi Perkotaan dan Pedesaan
Pemerataan pembangunan dapat dimulai dari strategi perbankan sebagai lembaga intermediasi. Perkotaan dengan likuiditas melimpah dapat dialihkan berupa kredit ke pelosok daerah di Nusantara yang memiliki potensi tapi kesulitan mengakses perbankan ataupun bisa mengakses namun berbiaya mahal. Strategi pengembangan ini dapat menjadi jembatan emas pembangunan yang merata. Dan tentunya keberhasilan program ini tidak akan lepas dari stimulus pemerintah dalam membangun infrastruktur di pelosok tanah air. Semoga perbankan kita dapat terus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar