Oleh: Djoko Retnadi dan Andreas Hassim, pengamat perbankan
Investor Daily tanggal 24 Maret 2009 (Kolom Opini)
Penurunan BI rate ke level 7,75% pada bulan Maret 2009 tampaknya kurang berhasil memacu perbankan untuk menurunkan suku bunganya. Demikian halnya dengan penurunan suku bunga penjaminan ke level 8,25% tidak membantu keadaan menjadi lebih baik. Hal ini ditandai dengan masih tingginya suku bunga kredit modal kerja di level 15,43%, kredit investasi 14,37% dan kredit konsumsi di level 16,45%.
Laju pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang hanya 18,77% (yoy Januari 2009) dibandingkan laju pertumbuhan kredit untuk periode yang sama mencapai 30,63% menyebabkan likuiditas perbankan masih ketat. Di samping itu kenaikan NPL Januari 2009 yang telah mencapai 3,59% (naik 0,39% dari posisi Desember 2009) menambah beban pencadangan penyisihan aktiva produktif sehingga menggerus laba. Kenaikan NPL tentunya oleh bank akan dikompensasi dengan kenaikan risk premium yang akan semakin mengerek suku bunga kredit. Dua hal tadi setidaknya yang membuat perbankan masih kesulitan menurunkan suku bunga kredit secara agresif.
Kelangkaan likuiditas selalu menjadi dalih bagi perbankan untuk terus mempertahankan suku bunga tinggi. Bahkan sebagian bankir cenderung memprioritaskan ketersediaan likuiditas dibandingkan pencapaian profit perusahaan, karena likuiditas merupakan darah bagi perbankan untuk dapat terus beroperasi apalagi trauma rush yang melanda perbankan tahun 1998 masih membekas. Kondisi ini nampak jelas terlihat dari rasio biaya operasional dibandingkan dengan pendapatan operasional/BOPO perbankan yang telah mencapai 101% pada Januari 2009 sebagai akibat perbankan mengerek suku bunga simpanan sangat tinggi seakan melupakan pentingnya aspek profitabilitas.
Kebiasaan sebagian besar masyarakat kita dalam melakukan investasi pada umumnya adalah pada pasar uang tradisional seperti yang ditawarkan perbankan. Karena kemudahan dan keamanannya, maka tabungan dan deposito-pun menjadi produk yang sangat diminati.
Namun sayang, produk simpanan perbankan, utamanya deposito akhir-akhir ini ternyata menyebabkan bankir tidak bisa tidur nyenyak. Saat ini, semua bankir selalu was-was dihadapkan pada pergerakan nasabah deposito yang cenderung liar. Bank-bank besar, dan lebih-lebih bank kecil selalu dihantui kaburnya para deposan ke bank pesaing yang menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Kecemasan inilah yang membuat suku bunga deposito 1 bulan pada Januari 2009 masih bertengger di level 10,52%. Bahkan beberapa bank yang minim likuiditas berlomba memberikan bunga deposito hingga 12-13%.
Kebijakan Out of Box
Kebijakan pemerintah/regulator guna mengatasi kelangkaan likuiditas dan tingginya suku bunga kredit sangat dinantikan. BI maupun Departemen Keuangan sebenarnya telah mencoba berbagai alternatif kebijakan untuk menciptakan suasana likuiditas yang lebih longgar. Bahkan Presiden R.I ikut pula mengimbau perbankan untuk segera menurunkan suku bunga kredit agar sektor riil lebih mudah menyerap kredit. Perbanas juga sempat melontarkan wacana pembentukan pool of funds (arisan) untuk membantu likuiditas antarbank. Semua upaya tersebut perlu didukung. Namun sampai saat ini, justru permasalahan utama yang masih laten di industri perbankan yaitu soal kepercayaan/trust di antara perbankan tampaknya masih sangat rendah dan belum tersentuh berbagai kebijakan yang ada. Pemerintah telah menegaskan tidak akan menjamin pasar uang antarbank sehingga sampai saat ini kepercayaan bank untuk saling meminjamkan dananya kepada bank yang memerlukan belum pulih ke kondisi normal. Oleh karena itu kebijakan yang luar biasa (out of box) perlu ditempuh.
Adanya persepsi yang berkembang di masyarakat bahwa bank besar tidak akan dibiarkan ambruk (too big to fail) oleh pemerintah tampaknya perlu ditinjau lebih mendalam oleh pihak berwenang karena hal ini dapat menimbulkan persepsi yang salah dalam setiap langkah penyelamatan perbankan. Akibat adanya persepsi semacam ini maka setiap bank besar yang bermasalah pasti diselamatkan berapapun biaya yang dikeluarkan pemerintah, sebaliknya setiap bank kecil pasti dibiarkan ambruk walaupun bank tersebut bermanfaat bagi masyarakat. Kalau persepsi ini terus berlanjut maka bank kecil akan sangat dirugikan dan mendorong munculnya moral hazard bagi bankir pengelola bank besar. Persepsi inilah yang menjadi salah satu terciptanya segmentasi dana untuk terus bias kepada bank besar.
Oleh karena itu BI/Pemerintah perlu melakukan out of box kebijakan dengan mengembangkan pemahaman mengenai prinsip “constructive ambiguity” dalam mendefinisikan bank yang perlu dilakukan bail out. Dalam prinsip ini, keputusan penyelamatan sebuah bank tidak didasarkan pada skala sebuah bank, namun lebih didasarkan pada asas manfaat dan biaya penyelamatan sebuah bank.
Contoh kasus bahwa bank besar tidak selalu harus diselamatkan adalah dibiarkannya Lehman Brothers, Northern Rock, dan beberapa bank di Islandia menghadapi kebangkrutan. Prinsip “too big to save” menjadi dasar penyelamatan. Jika biaya dianggap terlampau besar dibandingkan dampak positif yang dihasilkan maka adalah bijaksana jika sebuah bank dibiarkan bankrut.
Contoh sebaliknya yang terjadi di Inggris ketika Bank Of England menyelamatkan Johnson Matthey Bankers, Ltd (JMB) untuk menjaga likuiditas bank-bank yang melakukan perdagangan emas di pasar London karena JMB merupakan salah satu bank yang memiliki eksposur cukup besar dalam pelayanan gold deposit bagi bank-bank lain meskipun bank tesebut dari skala operasi tidak termasuk bank besar.
Catatan Akhir
Berbagai upaya BI/Pemerintah untuk melonggarakan likuiditas perbankan tampaknya belum membawa hasil yang memuaskan. Salah satu penyebab bandelnya suku bunga untuk menurun karena masalah kepercayaan antarbank belum tersentuh di dalam setiap kebijakan yang diambil, sehingga aliran dana tersegmentasi untuk bias kepada bank besar
Peningkatan pemahaman adanya prinsip constructive ambiguity diharapkan dapat digemakan oleh pihak berwenang sehingga akan ada semacam out of box dalam penyelesaian kelangkaan likuiditas perbankan dan suku bunga yang ternyata lebih banyak disebabkan belum pulihnya kepercayaan antarbank, dan bukan langkanya dana di masyarakat. Upaya ini perlu disosialisasikan karena pemerintah telah mengambil sikap untuk tidak memberikan penjaminan transaksi pasar uang antarbank. Dengan adanya prinsip constructive ambiguity maka segementasi aliran dana masyarakat tidak harus mengarah kepada bank besar. Kalau ini dapat terjadi maka suku bunga diperkirakan segera menurun.
Senin, 23 Maret 2009
Senin, 16 Maret 2009
I Have a Dream
Oleh : Andreas Hassim, adalah seorang pemimpi
Bagian Kedua dari : Pemimpin Sejati
I have a dream merupakan judul pidato seorang Marthin Luther King Jr di hadapan 250.000 massa pendukung hak-hak sipil bagi orang kulit hitam di tangga Lincoln Memorial Washington tahun 1963. Dan pada tanggal 4 April tahun 1968 King dibunuh usai berpidato berjudul “Saya sudah melihat tanah yang dijanjikan” satu hari sebelumnya.
Akhirnya judul pidato terakhir itu menjadi kenyataan dan bahkan awal tahun 2009 orang kulit hitam yang diperjuangkannya dapat dipercaya memimpin sebuah negara adidaya, ya Barack Husein Obama.
Apakah reformasi di negeri kita dapat menciptakan pemimpin yang sejati? Untuk mencapai ke sana tentunya butuh proses dan melalui pengorbanan seperti halnya Marthin Luther King Jr. Siapapun dia asalkan jujur, berani berkorban dan cerdas pilihlah dia !!!
Belajar dari hal itu saya mengajak para pembaca untuk mempunyai mimpi memiliki pemimpin yang sejati. Pemilu Legislatif sudah di depan mata, tgl 9 April 2009, namun beberapa lembaga survey memprediksikan golongan putih mencapai 40% dari sekitar 170 juta calon pemilih. Suatu hal yang sangat menyedihkan buat bangsa ini, sebagai tanda kepedulian dari 40% rakyat terhadap nasib bangsa sudah luntur. Ketika saya menyampaikan hal ini beberapa teman dan saudara saya nyeletuk : “gak ngaruh buat idup gw, sapa aja yang mimpin hasilnya sama saja. Kalau beberapa politisi yang baru muncul punya ungkapan rakyat bosan sama 4 L ( Lu Lagi Lu Lagi) maka teman dan saudara saya punya slogan 4 S ( Siapa Saja Sama Saja).
Wabah apatisme masyarakat terhadap pemerintah maupun parlemen sudah sedemikian parahnya. Ya gimana melihat mereka yang bermewah-mewah dengan fasilitas anggota dewan yang terhormat, bersikap arogan di tempat umum sambil ngomong mang lo gak tau sapa gue, malah ada yang pernah mengacung-acungkan pistolnya, tapi gak pernah diusut, trus ada bbrp ketangkap basah disuap, ada lagi yang ketauan minta PSK untuk sebuah keputusan, ada yang melecehkan sekertarisnya.
Menurut lagu yang diciptakan salah satu budayawan yang saya kagumi, Gak usa pikirin akhlaknya yang penting dia adil dan tegas. Setuju bang, silakan bertingkah aneh yang penting jangan bawa institusi dan tidak mencuri uang institusi serta gunakan hak dan kewajiban sebagaimana mestinya.
Pemerintah dan parlemen 2004-2009
Pemilihan Umum tahun 2004 telah menghasilkan anggota dewan dan pemerintahan yang sebentar lagi mengakhiri masa jabatannya mari kita lihat raport mereka ketika menduduki posisi tersebut. Di sini saya tidak ingin menghakimi seseorang oleh karena itu saya hanya akan menceritakan kisah sukses periode ini.
Sukses pertama adalah penegakan hukum dan pengungkapan kasus korupsi yang mengalami peningkatan secara signifikan. Kedua pada periode ini bangsa ini kembali dapat berswasembada beras (terakhir pada zaman orde baru). Ketiga, pengangguran menurun dari 10% ditahun 2004 menjadi 8,39% di akhir 2008, naiknya pendapatan perkapita dari 1300 USD menjadi 2200 USD dan pertumbuhan ekonomi tertinggi setelah zaman orde baru. Serta berbagai indikator makroekonomi yang relatif membaik menurut beberapa ekonom pemerintah walaupun secara global pertumbuhan beberapa negara besar bergerak ke angka minus. Ya dibalik berbagai kekurangannya kita wajib menghargai kerja keras dan keberhasilan pemerintah periode ini karena pemerintah periode 2004-2009 merupakan pilihan rakyat. Sebaliknya jika kita berpendapat bahwa pemerintah dan parlemen periode ini mengecewakan maka sekaranglah waktunya menghukum mereka dengan tidak memilih mereka lagi di pemilu 2009.
Siapkan diri menjadi Pemimpin
Menurut saya Akar permasalahan pro kontra di atas adalah kita kekurangan stok pemimpin berhati hamba. Mari saya contohkan.
Di Negeri kita saat ini terlalu sedikit orang seperti Pattimura, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Sultan Hasanudin, dll yang rela mengorbankan jiwa raganya untuk kemerdekaan. Kemerdekaan dari kelaparan, kemerdekaan dari kebodohan dan kemerdekaan secara ekonomi dari cengkraman bangsa lain yang berupaya membodohi kita. Tetapi yang banyak di negeri kita adalah pemimpin semacam Amangkurat I & II raja Mataram yang menjual negeri ini.
Siapa tak kenal bapak Jend Soetanto, seorang Jendral Polisi yang bersih, Siapa tak kenal bapak Abdurahman Saleh mantan jaksa Agung yang bersih (sampai-sampai dijuluki ustad di dalam sarang penyamun), siapa tak kenal Ibu Sri Mulyani yang masuk jajaran 50 wanita terkuat sedunia melampaui Ibu Hillary Clinton, ibu Mul yang cerdas, berintegritas dan sederhana. Siapa juga tak tahu seorang Hidayat Nur Wahid Ketua MPR yang bersahaja, idealis dan pro kepada rakyat. Dan masih ada beberapa nama yang dapat kita sebutkan (saya yakin teman-teman tahu kok, hehe)
Permasalahannya adalah seberapa banyak orang seperti mereka, kalau ada sistem dapat mengkloning mereka sehingga muncul puluhan Soetanto, ratusan Abdurahman Saleh, ribuan Sri Mulyani dan jutaan Hidayat Nur Wahid saya yakin negeri ini akan lebih kencang dari pada sprinter peraih medali emas Olimpiade dan saya yakin melampaui negeri yang disebut emerging country BRIC (Brazil, Rusia, India & China). Apa perlu kita pinjam jasa Noerdin M Top seorang teroris yang konon punya keahlian mendoktrinasi banyak orang sehingga cara berpikirnya bisa ter-kloning-kan.
Ya, maksud saya adalah keseragaman pola pikir para pejabat mulai dari tingkat terendah sampai tertinggi semua berorientasi bagi kemajuan bangsa. Sulit? Ya, tapi bukan berarti tidak mungkin karena tidak mungkin seorang Soetanto bekerja sendirian membasmi seorang mafia bisnis ilegal tanpa pasukan dan dukungan SEMUA PIHAK, karena taruhannya nyawa bung! pernah nonton ataupun baca THE GOD FATHER kan? Begitu pula seorang Abdurahman Saleh memberantas mafia peradilan hanya bersama segelintir kelompoknya, apa yang terjadi, mungkin dia mati diracun di luar negeri, keluarga rekan yang membantu diteror bahkan terbunuh atau hal buruk lainnya menimpah beliau dan keluarganya. Begitu pula seorang Sri Mulyani dengan ide-ide briliannya melakukan A-Z idenya supaya tidak ada kebocoran anggaran dan ini pun taruhannya juga nyawa, tapi saya salut beliau seorang pemberani, masih ingat beliau pernah menginstruksi salah satu bank BUMN untuk mengalihkan dana seorang “BENTO” ke kas negara karena diduga hasil korupsi. Ataupun seorang Hidayat Nur Wahid mampu mencegah suapan-suapan dari berbagai pihak kepada sekitar 1000 anggota MPR. Munginkah ? kalau cuma seorang ataupun segelintir?
Ya ilustrasi ini benar-benar menggambarkan untuk menjalankan amanah 240 juta manusia Indonesia sangat sulit ada nyawa menjadi taruhannya dan ada juga karir. Masakan karir untuk menjadi orang nomor satu di Kepolisian harus terjungkal (bukan perkara muda pren coba bayangkan jika Anda yang telah berprestasi dengan cucuran keringat selama puluhan tahun dan seharusnya promosi namun yang terjadi sebaliknya demosi karena pendapat ANDA yang “mengganggu” para GOD Father, Siapkah ANDA???, mungkin anda siap tapi bagaimana anak, istri dan saudara anda)
Sadar akan hal ini saya jadi malu, ketika mahasiswa saya teriak-teriak menyumpahi pejabat-pejabat yang duduk di sana, padahal setiap hari saya korupsi waktu untuk fesbukan, ataupun saya tergoda untuk mencuri uang rapat/workshop karena sepanjang rapat tak satu ide pun muncul bahkan saya ngobrol, smsan dll, padahal kalau saya nonton TV dan saya lihat anggota DPR spt itu, saya pasti umpat dia. Dan masih banyak lagi namun kurang etis kalau saya jabarkan.
Tindakan2 seperti itu semakin saya sadar kalau saya seorang oportunis, penjilat ludah sendiri dan sama dengan kebanyakan orang.
Jadi apa yang harus saya lakukan kalau kondisinya seperti ini! Ingat kita selalu menuntut supaya orang begini & begitu namun kita tidak pernah rela merubah kebusukan yang ada dalam diri kita. Marilah kita tumbuhkan kepedulian itu, siapa calon pemimpin itu? ANDA, ya sebagai pembaca tulisan ini, saya berharap ANDA tergugah melakukan sesuatu bagi bangsa ini sesuai bidang ANDA. Saya yakin Anda orang yang tepat setidaknya untuk beberapa alasan, yang pertama, jika ANDA seorang pekerja anda lebih hebat dari jutaan penganggur, toh seharusnya Anda mampu memimpin mereka, jika Anda Mahasiswa seharusnya Anda berbangga karena ada jutaan orang yang tidak pernah mampu kuliah dan yang ketiga Anda orang bernurani baik, ya karena Anda tersentuh ingin memberikan sesuatu bagi bangsa ini ketika membaca tulisan ini (hehe...). dan masih banyak hal lainnya.
Namun yang pasti ANDA tercipta di dunia ini untuk suatu rencana indah Sang Khalik, nasibmu ada di tanganmu sendiri bukan pada garis tanganmu dan bukan dari bentuk tanda tanganmu. Jadilah orang yang berguna, berkaryalah sehingga kelak kita meninggalkan dunia ada sesuatu karya yang indah yang telah kita buat dan upah kita besar di SurgaNYA. (Untuk hal yang tidak pasti saja kita perlu siapkan, apalagi kematian merupakan hal yang sudah pasti dialami setiap manusia). Mari kita beri yang terbaik dan siapkan diri menjadi pemimpin karena kalau bukan ANDA siapa lagi?
Siapa yang harus saya pilih
Sekitar 200 ribu caleg di seluruh indonesia berkompetisi untuk kursi DPR, DPD maupun DPRD. Semenjak zaman reformasi dengan tumbuhnya berbagai partai politik dan undang-undang pemilu yang demokratis membuka kesempatan berbagai kalangan menjadi legislatif. Tokoh masyarakat dan para artis pun seperti ketiban durian runtuh karena dengan pemilihan langsung tunjuk orang seperti saat ini ketenaran dan image mereka di tengah masyarakat sangat menentukan.
Slogan keberhasilan diucapkan pejabat incumbent, yang saling menjual saya sudah bikin ini dan itu. Sebaliknya si oposisi bicara kalau incumbent gagal ini dan itu. Jadi bingung, siapa yang benar ya?
Ada dua hal yang perlu kita cermati dalam menentukan pertama visi dan misi yang jelas, maksudnya, beberapa partai dan petingginya serta calegnya berulangkali berbicara normatif seperti: saya akan turunkan harga sembako, menciptakan lapangan pekerjaan, naikan kesejahteraan rakyat, dll. Tetapi yang perlu dicermati adalah bagaimana cara mencapai cita-cita mulia itu. Itu semua perlu duit, dari mana? Bagaimana caranya? dst. Kalau cuma sampai di sana, tidak jauh beda ketika seorang anak kecil berhasil menghafal Pancasila karena isinya sangat luar biasa, tapi ketika di tanya Bagaimana merealisasikan cita-cita tersebut? Mereka aa uu... (program ekonomi menurut opini saya dapat dilihat pada tulisan berjudul “Mengendalikan Tangan Yang Tidak Kelihatan”)
Kedua, diisi oleh orang-orang yang jujur, berani dan cerdas. Mari kita cari tahu siapa sih caleg yang ingin kita pilih. Sekarang informasi sangat terbuka ada koran, internet, TV dll. Di tengah informasi yang bebas spt sekarang ini seharusnya dengan mudah anda tahu siapa yang anda pilih karena sudah tidak zaman kita hanya tahu Parpol saja. Apa kata dunia? Ayo tunjukan kepedulianmu dengan mulai mencari tahu!
Kalau semua pemilih berpikir seperti itu saya yakin seharusnya kita memiliki pemerintahan yang tangguh. Kalaupun nantinya gagal total, kita tidak layak menyalahkan pemerintahan dan parlemen yang telah kita bersama pilih, yang patut kita salahkan adalah diri kita sendiri, setidaknya KITA SALAH PILIH dan masih serentetan kesalahan kita yang lain.
Sebagai seorang pemimpi saya bermimpi memiliki pemerintahan yang solid dikelilingi oleh parlemen yang secara berkesinambungan mengontrol jalannya pemerintahan menuju Indonesia yang adil dan makmur. Dan dalam mimpi saya, saya melihat Anda menjadi presiden dan Anda-Anda yang lain menjadi parlemennya. Doa saya selalu menyertai teman-temanku semoga cita-cita tersebut bisa bersemi dan tidak layu / mati sebelum berkembang. Amin.
Bagian Kedua dari : Pemimpin Sejati
I have a dream merupakan judul pidato seorang Marthin Luther King Jr di hadapan 250.000 massa pendukung hak-hak sipil bagi orang kulit hitam di tangga Lincoln Memorial Washington tahun 1963. Dan pada tanggal 4 April tahun 1968 King dibunuh usai berpidato berjudul “Saya sudah melihat tanah yang dijanjikan” satu hari sebelumnya.
Akhirnya judul pidato terakhir itu menjadi kenyataan dan bahkan awal tahun 2009 orang kulit hitam yang diperjuangkannya dapat dipercaya memimpin sebuah negara adidaya, ya Barack Husein Obama.
Apakah reformasi di negeri kita dapat menciptakan pemimpin yang sejati? Untuk mencapai ke sana tentunya butuh proses dan melalui pengorbanan seperti halnya Marthin Luther King Jr. Siapapun dia asalkan jujur, berani berkorban dan cerdas pilihlah dia !!!
Belajar dari hal itu saya mengajak para pembaca untuk mempunyai mimpi memiliki pemimpin yang sejati. Pemilu Legislatif sudah di depan mata, tgl 9 April 2009, namun beberapa lembaga survey memprediksikan golongan putih mencapai 40% dari sekitar 170 juta calon pemilih. Suatu hal yang sangat menyedihkan buat bangsa ini, sebagai tanda kepedulian dari 40% rakyat terhadap nasib bangsa sudah luntur. Ketika saya menyampaikan hal ini beberapa teman dan saudara saya nyeletuk : “gak ngaruh buat idup gw, sapa aja yang mimpin hasilnya sama saja. Kalau beberapa politisi yang baru muncul punya ungkapan rakyat bosan sama 4 L ( Lu Lagi Lu Lagi) maka teman dan saudara saya punya slogan 4 S ( Siapa Saja Sama Saja).
Wabah apatisme masyarakat terhadap pemerintah maupun parlemen sudah sedemikian parahnya. Ya gimana melihat mereka yang bermewah-mewah dengan fasilitas anggota dewan yang terhormat, bersikap arogan di tempat umum sambil ngomong mang lo gak tau sapa gue, malah ada yang pernah mengacung-acungkan pistolnya, tapi gak pernah diusut, trus ada bbrp ketangkap basah disuap, ada lagi yang ketauan minta PSK untuk sebuah keputusan, ada yang melecehkan sekertarisnya.
Menurut lagu yang diciptakan salah satu budayawan yang saya kagumi, Gak usa pikirin akhlaknya yang penting dia adil dan tegas. Setuju bang, silakan bertingkah aneh yang penting jangan bawa institusi dan tidak mencuri uang institusi serta gunakan hak dan kewajiban sebagaimana mestinya.
Pemerintah dan parlemen 2004-2009
Pemilihan Umum tahun 2004 telah menghasilkan anggota dewan dan pemerintahan yang sebentar lagi mengakhiri masa jabatannya mari kita lihat raport mereka ketika menduduki posisi tersebut. Di sini saya tidak ingin menghakimi seseorang oleh karena itu saya hanya akan menceritakan kisah sukses periode ini.
Sukses pertama adalah penegakan hukum dan pengungkapan kasus korupsi yang mengalami peningkatan secara signifikan. Kedua pada periode ini bangsa ini kembali dapat berswasembada beras (terakhir pada zaman orde baru). Ketiga, pengangguran menurun dari 10% ditahun 2004 menjadi 8,39% di akhir 2008, naiknya pendapatan perkapita dari 1300 USD menjadi 2200 USD dan pertumbuhan ekonomi tertinggi setelah zaman orde baru. Serta berbagai indikator makroekonomi yang relatif membaik menurut beberapa ekonom pemerintah walaupun secara global pertumbuhan beberapa negara besar bergerak ke angka minus. Ya dibalik berbagai kekurangannya kita wajib menghargai kerja keras dan keberhasilan pemerintah periode ini karena pemerintah periode 2004-2009 merupakan pilihan rakyat. Sebaliknya jika kita berpendapat bahwa pemerintah dan parlemen periode ini mengecewakan maka sekaranglah waktunya menghukum mereka dengan tidak memilih mereka lagi di pemilu 2009.
Siapkan diri menjadi Pemimpin
Menurut saya Akar permasalahan pro kontra di atas adalah kita kekurangan stok pemimpin berhati hamba. Mari saya contohkan.
Di Negeri kita saat ini terlalu sedikit orang seperti Pattimura, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Sultan Hasanudin, dll yang rela mengorbankan jiwa raganya untuk kemerdekaan. Kemerdekaan dari kelaparan, kemerdekaan dari kebodohan dan kemerdekaan secara ekonomi dari cengkraman bangsa lain yang berupaya membodohi kita. Tetapi yang banyak di negeri kita adalah pemimpin semacam Amangkurat I & II raja Mataram yang menjual negeri ini.
Siapa tak kenal bapak Jend Soetanto, seorang Jendral Polisi yang bersih, Siapa tak kenal bapak Abdurahman Saleh mantan jaksa Agung yang bersih (sampai-sampai dijuluki ustad di dalam sarang penyamun), siapa tak kenal Ibu Sri Mulyani yang masuk jajaran 50 wanita terkuat sedunia melampaui Ibu Hillary Clinton, ibu Mul yang cerdas, berintegritas dan sederhana. Siapa juga tak tahu seorang Hidayat Nur Wahid Ketua MPR yang bersahaja, idealis dan pro kepada rakyat. Dan masih ada beberapa nama yang dapat kita sebutkan (saya yakin teman-teman tahu kok, hehe)
Permasalahannya adalah seberapa banyak orang seperti mereka, kalau ada sistem dapat mengkloning mereka sehingga muncul puluhan Soetanto, ratusan Abdurahman Saleh, ribuan Sri Mulyani dan jutaan Hidayat Nur Wahid saya yakin negeri ini akan lebih kencang dari pada sprinter peraih medali emas Olimpiade dan saya yakin melampaui negeri yang disebut emerging country BRIC (Brazil, Rusia, India & China). Apa perlu kita pinjam jasa Noerdin M Top seorang teroris yang konon punya keahlian mendoktrinasi banyak orang sehingga cara berpikirnya bisa ter-kloning-kan.
Ya, maksud saya adalah keseragaman pola pikir para pejabat mulai dari tingkat terendah sampai tertinggi semua berorientasi bagi kemajuan bangsa. Sulit? Ya, tapi bukan berarti tidak mungkin karena tidak mungkin seorang Soetanto bekerja sendirian membasmi seorang mafia bisnis ilegal tanpa pasukan dan dukungan SEMUA PIHAK, karena taruhannya nyawa bung! pernah nonton ataupun baca THE GOD FATHER kan? Begitu pula seorang Abdurahman Saleh memberantas mafia peradilan hanya bersama segelintir kelompoknya, apa yang terjadi, mungkin dia mati diracun di luar negeri, keluarga rekan yang membantu diteror bahkan terbunuh atau hal buruk lainnya menimpah beliau dan keluarganya. Begitu pula seorang Sri Mulyani dengan ide-ide briliannya melakukan A-Z idenya supaya tidak ada kebocoran anggaran dan ini pun taruhannya juga nyawa, tapi saya salut beliau seorang pemberani, masih ingat beliau pernah menginstruksi salah satu bank BUMN untuk mengalihkan dana seorang “BENTO” ke kas negara karena diduga hasil korupsi. Ataupun seorang Hidayat Nur Wahid mampu mencegah suapan-suapan dari berbagai pihak kepada sekitar 1000 anggota MPR. Munginkah ? kalau cuma seorang ataupun segelintir?
Ya ilustrasi ini benar-benar menggambarkan untuk menjalankan amanah 240 juta manusia Indonesia sangat sulit ada nyawa menjadi taruhannya dan ada juga karir. Masakan karir untuk menjadi orang nomor satu di Kepolisian harus terjungkal (bukan perkara muda pren coba bayangkan jika Anda yang telah berprestasi dengan cucuran keringat selama puluhan tahun dan seharusnya promosi namun yang terjadi sebaliknya demosi karena pendapat ANDA yang “mengganggu” para GOD Father, Siapkah ANDA???, mungkin anda siap tapi bagaimana anak, istri dan saudara anda)
Sadar akan hal ini saya jadi malu, ketika mahasiswa saya teriak-teriak menyumpahi pejabat-pejabat yang duduk di sana, padahal setiap hari saya korupsi waktu untuk fesbukan, ataupun saya tergoda untuk mencuri uang rapat/workshop karena sepanjang rapat tak satu ide pun muncul bahkan saya ngobrol, smsan dll, padahal kalau saya nonton TV dan saya lihat anggota DPR spt itu, saya pasti umpat dia. Dan masih banyak lagi namun kurang etis kalau saya jabarkan.
Tindakan2 seperti itu semakin saya sadar kalau saya seorang oportunis, penjilat ludah sendiri dan sama dengan kebanyakan orang.
Jadi apa yang harus saya lakukan kalau kondisinya seperti ini! Ingat kita selalu menuntut supaya orang begini & begitu namun kita tidak pernah rela merubah kebusukan yang ada dalam diri kita. Marilah kita tumbuhkan kepedulian itu, siapa calon pemimpin itu? ANDA, ya sebagai pembaca tulisan ini, saya berharap ANDA tergugah melakukan sesuatu bagi bangsa ini sesuai bidang ANDA. Saya yakin Anda orang yang tepat setidaknya untuk beberapa alasan, yang pertama, jika ANDA seorang pekerja anda lebih hebat dari jutaan penganggur, toh seharusnya Anda mampu memimpin mereka, jika Anda Mahasiswa seharusnya Anda berbangga karena ada jutaan orang yang tidak pernah mampu kuliah dan yang ketiga Anda orang bernurani baik, ya karena Anda tersentuh ingin memberikan sesuatu bagi bangsa ini ketika membaca tulisan ini (hehe...). dan masih banyak hal lainnya.
Namun yang pasti ANDA tercipta di dunia ini untuk suatu rencana indah Sang Khalik, nasibmu ada di tanganmu sendiri bukan pada garis tanganmu dan bukan dari bentuk tanda tanganmu. Jadilah orang yang berguna, berkaryalah sehingga kelak kita meninggalkan dunia ada sesuatu karya yang indah yang telah kita buat dan upah kita besar di SurgaNYA. (Untuk hal yang tidak pasti saja kita perlu siapkan, apalagi kematian merupakan hal yang sudah pasti dialami setiap manusia). Mari kita beri yang terbaik dan siapkan diri menjadi pemimpin karena kalau bukan ANDA siapa lagi?
Siapa yang harus saya pilih
Sekitar 200 ribu caleg di seluruh indonesia berkompetisi untuk kursi DPR, DPD maupun DPRD. Semenjak zaman reformasi dengan tumbuhnya berbagai partai politik dan undang-undang pemilu yang demokratis membuka kesempatan berbagai kalangan menjadi legislatif. Tokoh masyarakat dan para artis pun seperti ketiban durian runtuh karena dengan pemilihan langsung tunjuk orang seperti saat ini ketenaran dan image mereka di tengah masyarakat sangat menentukan.
Slogan keberhasilan diucapkan pejabat incumbent, yang saling menjual saya sudah bikin ini dan itu. Sebaliknya si oposisi bicara kalau incumbent gagal ini dan itu. Jadi bingung, siapa yang benar ya?
Ada dua hal yang perlu kita cermati dalam menentukan pertama visi dan misi yang jelas, maksudnya, beberapa partai dan petingginya serta calegnya berulangkali berbicara normatif seperti: saya akan turunkan harga sembako, menciptakan lapangan pekerjaan, naikan kesejahteraan rakyat, dll. Tetapi yang perlu dicermati adalah bagaimana cara mencapai cita-cita mulia itu. Itu semua perlu duit, dari mana? Bagaimana caranya? dst. Kalau cuma sampai di sana, tidak jauh beda ketika seorang anak kecil berhasil menghafal Pancasila karena isinya sangat luar biasa, tapi ketika di tanya Bagaimana merealisasikan cita-cita tersebut? Mereka aa uu... (program ekonomi menurut opini saya dapat dilihat pada tulisan berjudul “Mengendalikan Tangan Yang Tidak Kelihatan”)
Kedua, diisi oleh orang-orang yang jujur, berani dan cerdas. Mari kita cari tahu siapa sih caleg yang ingin kita pilih. Sekarang informasi sangat terbuka ada koran, internet, TV dll. Di tengah informasi yang bebas spt sekarang ini seharusnya dengan mudah anda tahu siapa yang anda pilih karena sudah tidak zaman kita hanya tahu Parpol saja. Apa kata dunia? Ayo tunjukan kepedulianmu dengan mulai mencari tahu!
Kalau semua pemilih berpikir seperti itu saya yakin seharusnya kita memiliki pemerintahan yang tangguh. Kalaupun nantinya gagal total, kita tidak layak menyalahkan pemerintahan dan parlemen yang telah kita bersama pilih, yang patut kita salahkan adalah diri kita sendiri, setidaknya KITA SALAH PILIH dan masih serentetan kesalahan kita yang lain.
Sebagai seorang pemimpi saya bermimpi memiliki pemerintahan yang solid dikelilingi oleh parlemen yang secara berkesinambungan mengontrol jalannya pemerintahan menuju Indonesia yang adil dan makmur. Dan dalam mimpi saya, saya melihat Anda menjadi presiden dan Anda-Anda yang lain menjadi parlemennya. Doa saya selalu menyertai teman-temanku semoga cita-cita tersebut bisa bersemi dan tidak layu / mati sebelum berkembang. Amin.
Mengendalikan Tangan Yang Tak Kelihatan
Oleh : Andreas Hassim, pemerhati sosial ekonomi
Sistem perekonomian kapitalis yang mempengaruhi dunia disinyalir menjadi penyebab timbulnya krisis. Dimana perekonomian dikuasai oleh konglomerat-konglomerat yang bermental serakah dengan spekulasi-spekulasinya guna memaksimasi keuntungan.
Teori Invisible hand Adam Smith yang dianut oleh kaum kapitalis ini akhirnya membutuhkan suatu uluran tangan pemerintah untuk memperbaiki keadaan karena phobia akan hal yang lebih parah terjadi (too big to fail).
Dan menurut hemat saya sebagai negara berkembang keadaan globalisasi yang menuntut kita mengadopsi teori ini haruslah benar-benar disesuaikan dengan kondisi negara kita. Pada satu sisi kita membutuhkan investasi dari para pemilik modal dan di satu sisi kita membutuhkan suatu regulasi sehingga ekonomi kerakyatan yang lemah namun mayoritas tidak terinjak dan mati dengan adanya para raksasa tadi. Keterbatasan modal baik secara materi maupun SDM yang membuat kita tidak dapat menutup diri bagi asing sehingga regulasi yang dapat mengadopsi tuntutan global dan kondisi negara akan menjadi kunci sukses bertumbuhnya negara ini.
Begitu bangganya kita dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6% dan pertumbuhan pendapatan perkapita yang di tahun 2004 baru mencapai 1300 USD telah tumbuh menjadi 2200 USD (bahkan untuk DKI bisa mencapai 7000 USD). Akan tetapi angka kemiskinan naik dari 36,1 juta di tahun 2004 menjadi 41,7 juta manusia di tahun 2008. Hal ini menunjukan bahwa gini ratio/rasio kesenjangan si kaya dan si miskin semakin lebar. Ya, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Inilah akibat penerapan sistem kapitalis. Oleh karena itu diperlukan uluran tangan pemerintah guna mengarahkan suatu pertumbuhan yang lebih berkualitas.
Di tahun 2009 ini ancaman pertumbuhan ekonomi dibawah 4% mengintai negeri ini. Hal ini terlihat dari merosotnya ekspor, meningkatnya pengangguran & angka kemiskinan sehingga daya beli pun merosot. Laju perlambatan permintaan ekspor dan turunnya harga komoditas dunia menjadi salah satu sebab merosotnya nilai ekspor kita sehingga pemberdayaan ekonomi domestik menjadi jalan keluar yang dapat dioptimalkan.
Ketika konsumsi dan investasi swasta tak lagi mampu mengangkat perekonomian maka sesuai teori Keynes pemerintah harus segera meningkatkan pengeluarannya. Padahal di satu sisi pemerintah memiliki keterbatasan anggaran apalagi di tengah penurunan pendapatan karena beberapa komoditas turun harganya.
Langkah-langkah strategis pemerintah
Kebijakan pemerintah dalam pembangunan yang berkualitas merupakan hal yang paling penting disamping dukungan implementasi dari segenap rakyatnya. Oleh karena itu langkah-langkah strategis sangalah dinantikan oleh segenap rakyatnya.
Langkah pertama adalah optimalisasi apa yang kita miliki (SDA & SDM). Apa yang kita miliki? Bosan saya berbicara kekayaan negeri ini yang pasti negeri ini gema ripah. Kita punya cadangan minyak mencapai 8,4 miliar barel (akan habis selama 24 tahun dengan asumsi produksi saat ini skitar 925.000 barel/hari), cadangan batu bara mencapai 18,7 miliar ton (akan habis dalam 75 tahun dengan asumsi produksi saat ini 250 juta ton pertahun, pertambangan batubara terbesar di dunia ada di Kalimantan), cadangan gas alam mencapai 165 trilyun standar kubik (eksportir no 1 sedunia), sedangkan sumber energi lainnya seperti panas bumi, air terjun dan lainnya juga dimiliki negeri ini.
Kita punya logam & mineral berupa emas(di Timika ada gunung emas dengan diameter 100 km saat ini sudah berupa danau dan rakyat papua di sana masih miskin dan mengais-ngais emas hasil limbah freeport), perak, tembaga, nikel, alumunium, timah dan sebagainya.
Untuk kekayaan alam lainnya kita merupakan penghasil rotan no 1 sedunia, perkebunan CPO terbesar sedunia tapi ekspornya kalah dengan Malay, kita punya coklat tapi mengapa coklat van houten (netherland) jauh lebih terkenal, kemudian kopi, beraneka rempah-rempah dan masih banyak hasil alam yang dapat diandalkan.
Lautan kita sangat luas dengan panjang pantai kita merupakan yang terpanjang no 2 sedunia setelah Kanada. Ikan, udang, rumput laut dan hasil laut lainnya sangat melimpah dan belum dioptimalkan bahkan banyak nelayan negara tetangga mencuri ikan di perairan kita.
Kekayaan tadi diharapkan mampu diberdayakan sehingga kita mampu swasembada pangan dan memiliki kemandirian energi serta mampu memberi nilai tambah di setiap kekayaan alam tersebut (tidak hanya menjual barang mentah).
Langkah kedua adalah prioritas penggunaan anggaran pembangunan. Dengan prioritas anggaran tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkatkan kesejahteraan masyarakat yang sebelumnya miskin. Mari saya tunjukan contoh betapa pentingnya prioritas tersebut. Pertama dengan segala hormat saya mohon maaf kepada Prof Habibie karena saya mengkritik beliau. Ya, apakah anda ingat program produksi pesawat Nurtanio / IPTN yang menghasilkan CN 235 yang kemudian hanya laku dijual ke Thailand dan ditukar dengan beras. Ya secara gengsi saya setuju program pak habibie perlu di dukung apalagi negeri kita merupakan negeri kepulauan yang sangat membutuhkan alat transportasi berupa pesawat.
Anggaran produksi pesawat (saya tidak tahu persis angkanya, namun secara logika, pasti membutuhkan biaya yang sangat besar untuk sebuah gengsi) tersebut jika dialihkan ke sektor pertanian ataupun kelautan yang padat karya tentunya akan sangat menurunkan angka pengangguran yang berbuntut turunnya kemiskinan.
Saya sangat setuju jika pengembangan teknologi menjadi salah satu kunci sukses pembangunan. Oleh karena itu pembangunan yang memiliki tahapan dan perencanaan yang matang akan lebih baik. Mari saya contohkan, ketika IPTN membuat pesawat, tentunya banyak onderdil-onderdil ataupun mesin yang diimpor karena belum mampu kita produksi, padahal pengembangan teknologi tidak harus langsung memproduksi CN 235 akan tetapi teknologi muktahir dimulai dari hal-hal kecil dulu, misalnya menciptakan ban pesawat yang luar biasa sehingga muncul permintaan dari berbagai negara karena keunikan teknologi yang tidak dimiliki negara lain.
Ironi cerita di atas terlihat nyata bahwa kita pernah bisa memproduksi dan menjual pesawat ke luar negeri namun belum mampu membuat mobil nasional yang A-Z-nya dilakukan di tanah air.
Sehingga penentuan prioritas dalam penentuan anggaran benar-benar menjadi hal yang sangat menentukan sukses atau tidaknya program pembangunan tersebut.
Langkah Ketiga adalah Kebijakan pemerataan. Maksud dari langkah ini adalah berupaya semaksimal mungkin untuk mempersempit jurang antara si kaya dan si miskin. Dari data peningkatan pendapatan perkapita yang terus naik namun jumlah orang miskin bertambah membuktikan bahwa kebijakan kita saat ini sangat membantu si kaya dan menyulitkan si miskin, kemudian swasembada beras yang tahun 2008 kemarin berhasil dicapai kembali tapi kok petaninya tambah miskin hal ini berdasarkan survey kepemilikan lahan mereka, mereka ternyata orang upahan, ya inilah dampak buruk sistem ekonomi kapitalis.
Sehingga dibutuhkan suatu terobosan yang tidak populis mengakselerasi si miskin dengan konsekuensi si kaya terhambat, kemudian pendapatan perkapita mungkin saja turun tapi saya yakin pengangguran dan kemiskinan turun secara drastis.
Menjadikan desa dan perkampungan sebagai pusat pembangunan dapat dijadikan ide dasar penerapan kebijakan ini. Akan tetapi kebijakan ini tidak bisa serta merta digelontorkan begitu saja, kesiapan infrastruktur yang memampukan desa sebagai pusat pembangunan juga wajib disiapkan terutama SDM-nya.
Ya kebijakan ini pasti banyak ditentang banyak orang, yang pasti orang-orang yang punya duit karena mereka akan sulit sekali mengembangbiakan kekayaannya. Law enforcement pada kebijakan ini akan pula menentukan berhasil atau tidaknya kebijakan ini.
Langkah keempat, maksimalkan pasar domestik. Pakailah produk dalam negeri, begitulah slogan Barack Obama sekarang, bahkan Obama juga melarang beberapa produk yang diimpor namun mewajibkan rakyatnya menggunakan produk dalam negeri walaupun harga lebih mahal dan kualitas tidak lebih baik. Ya inilah proteksionisme yang seharusnya juga wajib dilaksanakan pemerintah (ya mungkin kita tidak bisa sevulgar AS sbg negara adidaya karena berisiko dimusuhi dunia global namun proteksionisme dapat dilakukan secara terselubung). Beri teladan dan maksimalkan produksi dalam negeri kalau bisa pemerintah lebih dulu yang menyerap produk-produk tersebut.
Langkah kelima, Gerakan Nasional bekerja dan berkarya. Ya semangat membangun tidak bisa hanya dimiliki oleh pemerintah namun juga harus didukung segenap lapisan masyarakat. Dengan sebuah gerakan nasional bekerja dan berkarya akan membuat malu dan gerah si pemalas sehingga mau melakukan sesuatu hal yang positif. Gerakan bekerja dan berkarya harus secara berkesinambungan di teriakan sampai ke pelosok-pelosok dan dibuat suatu mekanisme yang menggugah orang untuk terus bekerja dan berkarya. Sikap puas dengan keadaan dan sikap konsumtif yang berlebihan harus dapat dikikis dari kehidupan bangsa ini. Perhatikan desa-desa di pesisir pantai Utara Jawa(maaf ini hanya sebuah contoh sebenarnya masih banyak lagi tempat lainnya), budaya kawin cerai menjadi hal yang menghambat kemajuan daerah tersebut. Ketika seseorang mulai berhasil mereka langsung puas dan bersikap konsumtif dan yang lebih parah lagi mereka menikah kembali dan memiliki banyak anak yang pada akhirnya si anak tidak terurus. Efek domino kejadiannya ini terus menerus terjadi seperti lingkaran setan. Semoga dengan gerakan nasional dan tuntunan kerohanian dapat merubah budaya buruk tersebut menjadi semangat bekerja dan berkarya.
Penutup
Jika kelima langkah tersebut telah terkonsep dengan tepat dan terimplementasikan secara disiplin saya yakin negeri ini akan maju dan berjaya. Saya rindu China merengek-rengek minta batubara, kemudian memaksa Jepang mendirikan pabrik di negeri kita dan kalau tidak mau jangan ekspor gas alam kepada mereka, lalu Amerika mengemis meminta emas yang mereka curi dari Timika. Selain itu hutan kita merupakan paru2 dunia sehingga rusaknya hutan kita akan mengganggu metabolisme dunia maka perintahkan bangsa-bangsa itu menurunkan anggarannya guna menjaga hutan kita.
Penjabaran ini sebenarnya masih terlalu panjang, namun yang ingin saya sampaikan bahwa pentingnya sebuah pemerintahan yang mampu menegakkan kebijakan yang mampu meningkatkatkan kesejahteraan, harkat dan martabat segenap bangsa ini. Sebuah kuasa yang mampu mengendalikan The Invisble Hand menuju kemakmuran yang berkeadilan sosial. Ya sepertinya kita butuh seorang pemimpin yang bertangan besi untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang sangat berat ini.
Sistem perekonomian kapitalis yang mempengaruhi dunia disinyalir menjadi penyebab timbulnya krisis. Dimana perekonomian dikuasai oleh konglomerat-konglomerat yang bermental serakah dengan spekulasi-spekulasinya guna memaksimasi keuntungan.
Teori Invisible hand Adam Smith yang dianut oleh kaum kapitalis ini akhirnya membutuhkan suatu uluran tangan pemerintah untuk memperbaiki keadaan karena phobia akan hal yang lebih parah terjadi (too big to fail).
Dan menurut hemat saya sebagai negara berkembang keadaan globalisasi yang menuntut kita mengadopsi teori ini haruslah benar-benar disesuaikan dengan kondisi negara kita. Pada satu sisi kita membutuhkan investasi dari para pemilik modal dan di satu sisi kita membutuhkan suatu regulasi sehingga ekonomi kerakyatan yang lemah namun mayoritas tidak terinjak dan mati dengan adanya para raksasa tadi. Keterbatasan modal baik secara materi maupun SDM yang membuat kita tidak dapat menutup diri bagi asing sehingga regulasi yang dapat mengadopsi tuntutan global dan kondisi negara akan menjadi kunci sukses bertumbuhnya negara ini.
Begitu bangganya kita dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6% dan pertumbuhan pendapatan perkapita yang di tahun 2004 baru mencapai 1300 USD telah tumbuh menjadi 2200 USD (bahkan untuk DKI bisa mencapai 7000 USD). Akan tetapi angka kemiskinan naik dari 36,1 juta di tahun 2004 menjadi 41,7 juta manusia di tahun 2008. Hal ini menunjukan bahwa gini ratio/rasio kesenjangan si kaya dan si miskin semakin lebar. Ya, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Inilah akibat penerapan sistem kapitalis. Oleh karena itu diperlukan uluran tangan pemerintah guna mengarahkan suatu pertumbuhan yang lebih berkualitas.
Di tahun 2009 ini ancaman pertumbuhan ekonomi dibawah 4% mengintai negeri ini. Hal ini terlihat dari merosotnya ekspor, meningkatnya pengangguran & angka kemiskinan sehingga daya beli pun merosot. Laju perlambatan permintaan ekspor dan turunnya harga komoditas dunia menjadi salah satu sebab merosotnya nilai ekspor kita sehingga pemberdayaan ekonomi domestik menjadi jalan keluar yang dapat dioptimalkan.
Ketika konsumsi dan investasi swasta tak lagi mampu mengangkat perekonomian maka sesuai teori Keynes pemerintah harus segera meningkatkan pengeluarannya. Padahal di satu sisi pemerintah memiliki keterbatasan anggaran apalagi di tengah penurunan pendapatan karena beberapa komoditas turun harganya.
Langkah-langkah strategis pemerintah
Kebijakan pemerintah dalam pembangunan yang berkualitas merupakan hal yang paling penting disamping dukungan implementasi dari segenap rakyatnya. Oleh karena itu langkah-langkah strategis sangalah dinantikan oleh segenap rakyatnya.
Langkah pertama adalah optimalisasi apa yang kita miliki (SDA & SDM). Apa yang kita miliki? Bosan saya berbicara kekayaan negeri ini yang pasti negeri ini gema ripah. Kita punya cadangan minyak mencapai 8,4 miliar barel (akan habis selama 24 tahun dengan asumsi produksi saat ini skitar 925.000 barel/hari), cadangan batu bara mencapai 18,7 miliar ton (akan habis dalam 75 tahun dengan asumsi produksi saat ini 250 juta ton pertahun, pertambangan batubara terbesar di dunia ada di Kalimantan), cadangan gas alam mencapai 165 trilyun standar kubik (eksportir no 1 sedunia), sedangkan sumber energi lainnya seperti panas bumi, air terjun dan lainnya juga dimiliki negeri ini.
Kita punya logam & mineral berupa emas(di Timika ada gunung emas dengan diameter 100 km saat ini sudah berupa danau dan rakyat papua di sana masih miskin dan mengais-ngais emas hasil limbah freeport), perak, tembaga, nikel, alumunium, timah dan sebagainya.
Untuk kekayaan alam lainnya kita merupakan penghasil rotan no 1 sedunia, perkebunan CPO terbesar sedunia tapi ekspornya kalah dengan Malay, kita punya coklat tapi mengapa coklat van houten (netherland) jauh lebih terkenal, kemudian kopi, beraneka rempah-rempah dan masih banyak hasil alam yang dapat diandalkan.
Lautan kita sangat luas dengan panjang pantai kita merupakan yang terpanjang no 2 sedunia setelah Kanada. Ikan, udang, rumput laut dan hasil laut lainnya sangat melimpah dan belum dioptimalkan bahkan banyak nelayan negara tetangga mencuri ikan di perairan kita.
Kekayaan tadi diharapkan mampu diberdayakan sehingga kita mampu swasembada pangan dan memiliki kemandirian energi serta mampu memberi nilai tambah di setiap kekayaan alam tersebut (tidak hanya menjual barang mentah).
Langkah kedua adalah prioritas penggunaan anggaran pembangunan. Dengan prioritas anggaran tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkatkan kesejahteraan masyarakat yang sebelumnya miskin. Mari saya tunjukan contoh betapa pentingnya prioritas tersebut. Pertama dengan segala hormat saya mohon maaf kepada Prof Habibie karena saya mengkritik beliau. Ya, apakah anda ingat program produksi pesawat Nurtanio / IPTN yang menghasilkan CN 235 yang kemudian hanya laku dijual ke Thailand dan ditukar dengan beras. Ya secara gengsi saya setuju program pak habibie perlu di dukung apalagi negeri kita merupakan negeri kepulauan yang sangat membutuhkan alat transportasi berupa pesawat.
Anggaran produksi pesawat (saya tidak tahu persis angkanya, namun secara logika, pasti membutuhkan biaya yang sangat besar untuk sebuah gengsi) tersebut jika dialihkan ke sektor pertanian ataupun kelautan yang padat karya tentunya akan sangat menurunkan angka pengangguran yang berbuntut turunnya kemiskinan.
Saya sangat setuju jika pengembangan teknologi menjadi salah satu kunci sukses pembangunan. Oleh karena itu pembangunan yang memiliki tahapan dan perencanaan yang matang akan lebih baik. Mari saya contohkan, ketika IPTN membuat pesawat, tentunya banyak onderdil-onderdil ataupun mesin yang diimpor karena belum mampu kita produksi, padahal pengembangan teknologi tidak harus langsung memproduksi CN 235 akan tetapi teknologi muktahir dimulai dari hal-hal kecil dulu, misalnya menciptakan ban pesawat yang luar biasa sehingga muncul permintaan dari berbagai negara karena keunikan teknologi yang tidak dimiliki negara lain.
Ironi cerita di atas terlihat nyata bahwa kita pernah bisa memproduksi dan menjual pesawat ke luar negeri namun belum mampu membuat mobil nasional yang A-Z-nya dilakukan di tanah air.
Sehingga penentuan prioritas dalam penentuan anggaran benar-benar menjadi hal yang sangat menentukan sukses atau tidaknya program pembangunan tersebut.
Langkah Ketiga adalah Kebijakan pemerataan. Maksud dari langkah ini adalah berupaya semaksimal mungkin untuk mempersempit jurang antara si kaya dan si miskin. Dari data peningkatan pendapatan perkapita yang terus naik namun jumlah orang miskin bertambah membuktikan bahwa kebijakan kita saat ini sangat membantu si kaya dan menyulitkan si miskin, kemudian swasembada beras yang tahun 2008 kemarin berhasil dicapai kembali tapi kok petaninya tambah miskin hal ini berdasarkan survey kepemilikan lahan mereka, mereka ternyata orang upahan, ya inilah dampak buruk sistem ekonomi kapitalis.
Sehingga dibutuhkan suatu terobosan yang tidak populis mengakselerasi si miskin dengan konsekuensi si kaya terhambat, kemudian pendapatan perkapita mungkin saja turun tapi saya yakin pengangguran dan kemiskinan turun secara drastis.
Menjadikan desa dan perkampungan sebagai pusat pembangunan dapat dijadikan ide dasar penerapan kebijakan ini. Akan tetapi kebijakan ini tidak bisa serta merta digelontorkan begitu saja, kesiapan infrastruktur yang memampukan desa sebagai pusat pembangunan juga wajib disiapkan terutama SDM-nya.
Ya kebijakan ini pasti banyak ditentang banyak orang, yang pasti orang-orang yang punya duit karena mereka akan sulit sekali mengembangbiakan kekayaannya. Law enforcement pada kebijakan ini akan pula menentukan berhasil atau tidaknya kebijakan ini.
Langkah keempat, maksimalkan pasar domestik. Pakailah produk dalam negeri, begitulah slogan Barack Obama sekarang, bahkan Obama juga melarang beberapa produk yang diimpor namun mewajibkan rakyatnya menggunakan produk dalam negeri walaupun harga lebih mahal dan kualitas tidak lebih baik. Ya inilah proteksionisme yang seharusnya juga wajib dilaksanakan pemerintah (ya mungkin kita tidak bisa sevulgar AS sbg negara adidaya karena berisiko dimusuhi dunia global namun proteksionisme dapat dilakukan secara terselubung). Beri teladan dan maksimalkan produksi dalam negeri kalau bisa pemerintah lebih dulu yang menyerap produk-produk tersebut.
Langkah kelima, Gerakan Nasional bekerja dan berkarya. Ya semangat membangun tidak bisa hanya dimiliki oleh pemerintah namun juga harus didukung segenap lapisan masyarakat. Dengan sebuah gerakan nasional bekerja dan berkarya akan membuat malu dan gerah si pemalas sehingga mau melakukan sesuatu hal yang positif. Gerakan bekerja dan berkarya harus secara berkesinambungan di teriakan sampai ke pelosok-pelosok dan dibuat suatu mekanisme yang menggugah orang untuk terus bekerja dan berkarya. Sikap puas dengan keadaan dan sikap konsumtif yang berlebihan harus dapat dikikis dari kehidupan bangsa ini. Perhatikan desa-desa di pesisir pantai Utara Jawa(maaf ini hanya sebuah contoh sebenarnya masih banyak lagi tempat lainnya), budaya kawin cerai menjadi hal yang menghambat kemajuan daerah tersebut. Ketika seseorang mulai berhasil mereka langsung puas dan bersikap konsumtif dan yang lebih parah lagi mereka menikah kembali dan memiliki banyak anak yang pada akhirnya si anak tidak terurus. Efek domino kejadiannya ini terus menerus terjadi seperti lingkaran setan. Semoga dengan gerakan nasional dan tuntunan kerohanian dapat merubah budaya buruk tersebut menjadi semangat bekerja dan berkarya.
Penutup
Jika kelima langkah tersebut telah terkonsep dengan tepat dan terimplementasikan secara disiplin saya yakin negeri ini akan maju dan berjaya. Saya rindu China merengek-rengek minta batubara, kemudian memaksa Jepang mendirikan pabrik di negeri kita dan kalau tidak mau jangan ekspor gas alam kepada mereka, lalu Amerika mengemis meminta emas yang mereka curi dari Timika. Selain itu hutan kita merupakan paru2 dunia sehingga rusaknya hutan kita akan mengganggu metabolisme dunia maka perintahkan bangsa-bangsa itu menurunkan anggarannya guna menjaga hutan kita.
Penjabaran ini sebenarnya masih terlalu panjang, namun yang ingin saya sampaikan bahwa pentingnya sebuah pemerintahan yang mampu menegakkan kebijakan yang mampu meningkatkatkan kesejahteraan, harkat dan martabat segenap bangsa ini. Sebuah kuasa yang mampu mengendalikan The Invisble Hand menuju kemakmuran yang berkeadilan sosial. Ya sepertinya kita butuh seorang pemimpin yang bertangan besi untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang sangat berat ini.
Senin, 09 Maret 2009
Tantangan Perbankan 2009
Oleh : Andreas Hassim, pemerhati perbankan
Tahun 2009 merupakan tahun yang berat untuk perbankan menjalankan bisnisnya, hal ini ditandai dengan masih seretnya likuiditas, keterbatasan modal perbankan dan ancaman peningkatan NPL. Problematika tersebut belum ditambah kerugian beberapa bank yang terkena imbas transaksi derivativ (treasury banking). Seretnya likuiditas ditandai dengan terjadinya anomali dimana bunga kredit yang belum juga turun dari level 14-18% sementara BI rate sudah turun 175 bp ke level 7,75%. Keterbatasan modal membuat ruang gerak ekspansi kredit semakin terbatas dimana rasio kecukupan modal bank (CAR) pernah menyentuh level 21.6% pada Januari 2008 namun merosot jauh ke level 16,76% pada Desember 2008, sementara modal yang berfungsi sebagai penyangga guna menyerap kerugian yang mungkin timbul akan semakin tergerus ditengah ancaman meningkatnya NPL. Belum lagi penerapan Basel Accord II yang mewajibkan Bank memperhitungan risiko operasional dan risiko pasar selain daripada risiko kredit. BI sebagai regulator pun telah memprediksi hal tersebut dengan memproyeksikan CAR perbankan menjadi 14% dan NPL menyentuh angka kritis 5% pada akhir tahun 2009. Tren tersebut sepertinya akan menghantar kita ke pertumbuhan kredit yang melambat, suku bunga yang masih tinggi paling tidak pada kuartal I 2009.
Di tengah problematika tersebut, perbankan nasional diharapkan tetap menjalankan fungsi intermediasinya dan ekspansi kredit diharapkan mampu meredam perlambatan ekonomi guna menghambat angka pengangguran dan angka kemiskinan. Beberapa rekomendasi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah menjaring dana murah sekaligus menjaga ketahanan likuiditas, memperkuat modal, melakukan ekspansi kredit tepat sasaran sekaligus menjaga kualitas kreditnya,. Namun ketiga langkah tersebut perlu didukung oleh keseriusan pemerintah untuk menstimulus perbankan.
Menjaring Dana Murah
Bank-bank dengan komposisi DPK didominasi oleh deposito-deposito dalam jumlah besar dengan suku bunga negosiasi akan sulit sekali menurunkan suku bunga kreditnya. Trauma krisis tahun 1998 sepertinya menghantui perbankan sehingga bak-bank sangat khawatir nasabah-nasabah prioritasnya diambil bank lain ataupun melarikan uangnya karena ada tawaran imbal hasil yang lebih menarik. Ada baiknya perbankan duduk bersama menyepakati batas maksimal pemberian suku bunga misal sebesar penjaminan LPS.
Selain daripada itu kreativitas menjaring dana murah menjadi salah satu hal yang dapat diperhitungkan. Dapat kita perhatikaan di ribuan pasar tradisional di Indonesia setiap harinya ada Trilyunan Rupiah berputar dan hal ini sangat dimanfaatkan oleh bank-bank keliling ataupun mekanisme arisan yang sederhana. Bank-bank yang memiliki akses terdekat ke pasar tradisional seperti BRI dan DSP sebenarnya sangat diuntungkan.
Oleh karena bisnis layanan penarikan setoran di tempat usaha nasabah bisa menjadi layanan yang ditawarkan dengan kemajuan teknologi yaitu mobile EDC yang dilengkapi GPRS mampu memberikan layanan online untuk berbagai kemudahan dan meminimasi fraud. Memang tidak dapat dipungkiri kegiatan seperti ini padat karya yang akan menaikan overhead cost namun di sisi lain dengan perhitungan suku bunga yang rendah dan kualifikasi tenaga kerja yang tidak harus setingkat funding officer sehingga biaya tersebut dapat ditekan. Selain daripada itu petugas bank tersebut dapat sekaligus melakukan cross selling produk bank lainnya seperti kredit, transfer dan berbagai macam pembayaran. Kelengkapan layanan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan prospek perkembangan pasar.
Layanan yang prima dilengkapi dengan teknologi akan menjadi kunci utama memenangkan pasar perbankan yang semakin kompetitif saat ini.
Memperkuat Modal
Selain masih seretnya likuiditas dari sisi modal pun bank kesulitan meningkatkan besaran modalnya karena dari ketiga opsi yang dimungkinkan yaitu right issue, penerbitan obligasi sub ordinasi, ataupun hybrid capital/modal inovatif belum menjadi pilihan-pilihan yang mengenakan. Untuk right issue di saat lesunya pasar modal tentunya akan menekan harga jual saham tersebut ditambah lagi yang melakukan right issue adalah Bank BUMN yang harus melewatkan berbagai prosesi untuk menjalankannya. Opsi penerbitan obligasi sub ordinasi pun sulit ditempuh karena yield yang diharapkan pasar masih relatif tinggi. Hybrid capital yang awalnya bisa menjembatani nyatanya tidak juga menjadi solusi, hal ini dikarenakan sifat Hybrid Capital yang merupakan instrumen utang memiliki karakteristik perpetual non cumulative subordinated debt. Dalam hal ini berarti bahwa hybrid capital tidak memiliki jangka waktu yang mengharuskan bank mengembalikan pokok dan bank tidak mengakumulasikan kuponnya jika pada periode tertentu bank tidak mampu membayar kuponnya. Di samping itu bank memiliki opsi call option yang bisa eksekusi yang paling cepat 10 tahun sejak efektif ditransaksikan. Oleh karena risiko-risiko tadi tentunya pricing hybrid capital akan lebih tinggi dari obligasi sub ordinasi yang tradisional.
Namun bank-bank yang bereputasi baik dapat berharap hybrid capital ini dapat dieksekusi dengan pola pinjaman bilateral sehingga biaya kupon dapat diminimasi. Selain itu perbankan berharap regulator dapat memaksimalkan ketentuan laba tahun berjalan yang saat ini hanya dinilai sebagai 50% laba dapat masuk 100% sebagai modal. Bank persero yang selama ini menjadi tulang punggung dalam pembiayaan infrastruktur pun kurang leluasa dalam menyalurkan kredit karena rasio CAR pada Desember mencapai 14,31%, suatu angka yang sangat minim di tengah tuntutan berpredikat bank jangkar (minimal 12%). Stimulus ATMR pun masih sangat diharapkan perbankan agar pertumbuhan kreditnya bisa mencapai lebih dari 20% terutama ketentuan ATMR bagi kredit UMKM. UMKM yang diharapkan dapat menjadi obat yang mujarab dalam membangun ekonomi domestik di tengah krisis global sehingga target pertumbuhan ekonomi yang dipatok hanya sekitar 4,7% oleh pemerintah dapat tercapai.
Ekspansi Tepat Sasaran
Masalah Likuiditas dan permodalan yang sangat terbatas membuat perbankan harus cermat dalam memilih prospek pembiayaannya. Pemerintah yang cenderung memacu konsumsi rumah tangga yang saat ini menyumbang 61% PDB (data BPS Triwulan IV 2008) dapat dimanfaatkan perbankan di sektor konsumsi dan pembiayaan komersial terhadap usaha yang menjadi prioritas konsumsi masyarakat. Perbankan pun dapat fokus kepada pinjaman dengan penjaminan (KUR) ataupun pembiayaan proyek-proyek yang dijamin pemerintah karena memiliki ATMR yang rendah. Pada produk kredit konsumsi bank dapat mengincar PNS yang tahun 2009 ini mengalami peningkatan gaji yang cukup menarik disamping itu bank sebaiknya mengincar segmen yang relatif sudah mapan/kalangan menengah atas. Hal tadi sebagai antisipasi di tengah kerentanan PHK yang sedang menghantui dan bisa menjadi bumerang bagi perbankan.
Berdasarkan data BPS pada Triwulan IV 2008 dilaporkan bahwa sektor yang tumbuh significant adalah sektor pengangkutan dan komunikasi yaitu tumbuh sebesar 16,7%. Sektor tersebut diperkirakan berpotensi tumbuh di tahun 2009 mengingat adanya pesta demokrasi yang membutuhkan pengangkutan dan komunikasi cukup banyak. Sebagai multiplier effect sektor perdagangan, hotel dan perdagangan serta kebutuhan akan Listrik, Gas dan air bersih akan meningkat sehingga sektor-sektor ini dapat dijadikan sasaran penyaluran kredit. Sebaliknya sektor komoditas primer tetap wajib diwaspadai dengan runtuhnya harga komoditas dunia untuk itu bank disarankan membiayai usaha yang memiliki nilai tambah lebih dan tidak hanya menjual bahan mentah (primer).
Peran Pemerintah dalam menstimulus
Stimulus yang mencapai Rp 71 T yang telah dijanjikan pemerintah amat sangat ditunggu oleh dunia usaha terutama stimulus yang berupa aliran dana ke sektor riil melalui PNPM, KUR, BLT dan lain-lain. Di samping itu realisasi proyek-proyek pemerintah sangat dibutuhkan segera dieksekusi karena jika terlambat maka dunia usaha sudah terlebih dahulu kolaps yang menyebabkan pengangguran, daya beli turun dan serentetan masalah akan timbul yang dapat berujung pada resesi. Selain daripada stimulus pada sektor riil, perbankan sangat mengharapkan dapat pula menikmati stimulus yaitu pertama insentif pajak sehingga dapat diperhitungkan dalam memberikan pricing suku bunga kredit yang saat ini sangat sulit diturunkan. Hal kedua yang dinantikan perbankan adalah penyesuaian ketentuan ATMR bagi kredit usaha kecil yang masih belum terasa gregetnya pada Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/1/DPNP mengenai Perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko untuk Kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah tanggal 21 Januari 2009. Realisasi stimulus yang cepat dan tepat diharapkan mampu membawa pemulihan ekonomi menjadi lebih cepat.
Tahun 2009 merupakan tahun yang berat untuk perbankan menjalankan bisnisnya, hal ini ditandai dengan masih seretnya likuiditas, keterbatasan modal perbankan dan ancaman peningkatan NPL. Problematika tersebut belum ditambah kerugian beberapa bank yang terkena imbas transaksi derivativ (treasury banking). Seretnya likuiditas ditandai dengan terjadinya anomali dimana bunga kredit yang belum juga turun dari level 14-18% sementara BI rate sudah turun 175 bp ke level 7,75%. Keterbatasan modal membuat ruang gerak ekspansi kredit semakin terbatas dimana rasio kecukupan modal bank (CAR) pernah menyentuh level 21.6% pada Januari 2008 namun merosot jauh ke level 16,76% pada Desember 2008, sementara modal yang berfungsi sebagai penyangga guna menyerap kerugian yang mungkin timbul akan semakin tergerus ditengah ancaman meningkatnya NPL. Belum lagi penerapan Basel Accord II yang mewajibkan Bank memperhitungan risiko operasional dan risiko pasar selain daripada risiko kredit. BI sebagai regulator pun telah memprediksi hal tersebut dengan memproyeksikan CAR perbankan menjadi 14% dan NPL menyentuh angka kritis 5% pada akhir tahun 2009. Tren tersebut sepertinya akan menghantar kita ke pertumbuhan kredit yang melambat, suku bunga yang masih tinggi paling tidak pada kuartal I 2009.
Di tengah problematika tersebut, perbankan nasional diharapkan tetap menjalankan fungsi intermediasinya dan ekspansi kredit diharapkan mampu meredam perlambatan ekonomi guna menghambat angka pengangguran dan angka kemiskinan. Beberapa rekomendasi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah menjaring dana murah sekaligus menjaga ketahanan likuiditas, memperkuat modal, melakukan ekspansi kredit tepat sasaran sekaligus menjaga kualitas kreditnya,. Namun ketiga langkah tersebut perlu didukung oleh keseriusan pemerintah untuk menstimulus perbankan.
Menjaring Dana Murah
Bank-bank dengan komposisi DPK didominasi oleh deposito-deposito dalam jumlah besar dengan suku bunga negosiasi akan sulit sekali menurunkan suku bunga kreditnya. Trauma krisis tahun 1998 sepertinya menghantui perbankan sehingga bak-bank sangat khawatir nasabah-nasabah prioritasnya diambil bank lain ataupun melarikan uangnya karena ada tawaran imbal hasil yang lebih menarik. Ada baiknya perbankan duduk bersama menyepakati batas maksimal pemberian suku bunga misal sebesar penjaminan LPS.
Selain daripada itu kreativitas menjaring dana murah menjadi salah satu hal yang dapat diperhitungkan. Dapat kita perhatikaan di ribuan pasar tradisional di Indonesia setiap harinya ada Trilyunan Rupiah berputar dan hal ini sangat dimanfaatkan oleh bank-bank keliling ataupun mekanisme arisan yang sederhana. Bank-bank yang memiliki akses terdekat ke pasar tradisional seperti BRI dan DSP sebenarnya sangat diuntungkan.
Oleh karena bisnis layanan penarikan setoran di tempat usaha nasabah bisa menjadi layanan yang ditawarkan dengan kemajuan teknologi yaitu mobile EDC yang dilengkapi GPRS mampu memberikan layanan online untuk berbagai kemudahan dan meminimasi fraud. Memang tidak dapat dipungkiri kegiatan seperti ini padat karya yang akan menaikan overhead cost namun di sisi lain dengan perhitungan suku bunga yang rendah dan kualifikasi tenaga kerja yang tidak harus setingkat funding officer sehingga biaya tersebut dapat ditekan. Selain daripada itu petugas bank tersebut dapat sekaligus melakukan cross selling produk bank lainnya seperti kredit, transfer dan berbagai macam pembayaran. Kelengkapan layanan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan prospek perkembangan pasar.
Layanan yang prima dilengkapi dengan teknologi akan menjadi kunci utama memenangkan pasar perbankan yang semakin kompetitif saat ini.
Memperkuat Modal
Selain masih seretnya likuiditas dari sisi modal pun bank kesulitan meningkatkan besaran modalnya karena dari ketiga opsi yang dimungkinkan yaitu right issue, penerbitan obligasi sub ordinasi, ataupun hybrid capital/modal inovatif belum menjadi pilihan-pilihan yang mengenakan. Untuk right issue di saat lesunya pasar modal tentunya akan menekan harga jual saham tersebut ditambah lagi yang melakukan right issue adalah Bank BUMN yang harus melewatkan berbagai prosesi untuk menjalankannya. Opsi penerbitan obligasi sub ordinasi pun sulit ditempuh karena yield yang diharapkan pasar masih relatif tinggi. Hybrid capital yang awalnya bisa menjembatani nyatanya tidak juga menjadi solusi, hal ini dikarenakan sifat Hybrid Capital yang merupakan instrumen utang memiliki karakteristik perpetual non cumulative subordinated debt. Dalam hal ini berarti bahwa hybrid capital tidak memiliki jangka waktu yang mengharuskan bank mengembalikan pokok dan bank tidak mengakumulasikan kuponnya jika pada periode tertentu bank tidak mampu membayar kuponnya. Di samping itu bank memiliki opsi call option yang bisa eksekusi yang paling cepat 10 tahun sejak efektif ditransaksikan. Oleh karena risiko-risiko tadi tentunya pricing hybrid capital akan lebih tinggi dari obligasi sub ordinasi yang tradisional.
Namun bank-bank yang bereputasi baik dapat berharap hybrid capital ini dapat dieksekusi dengan pola pinjaman bilateral sehingga biaya kupon dapat diminimasi. Selain itu perbankan berharap regulator dapat memaksimalkan ketentuan laba tahun berjalan yang saat ini hanya dinilai sebagai 50% laba dapat masuk 100% sebagai modal. Bank persero yang selama ini menjadi tulang punggung dalam pembiayaan infrastruktur pun kurang leluasa dalam menyalurkan kredit karena rasio CAR pada Desember mencapai 14,31%, suatu angka yang sangat minim di tengah tuntutan berpredikat bank jangkar (minimal 12%). Stimulus ATMR pun masih sangat diharapkan perbankan agar pertumbuhan kreditnya bisa mencapai lebih dari 20% terutama ketentuan ATMR bagi kredit UMKM. UMKM yang diharapkan dapat menjadi obat yang mujarab dalam membangun ekonomi domestik di tengah krisis global sehingga target pertumbuhan ekonomi yang dipatok hanya sekitar 4,7% oleh pemerintah dapat tercapai.
Ekspansi Tepat Sasaran
Masalah Likuiditas dan permodalan yang sangat terbatas membuat perbankan harus cermat dalam memilih prospek pembiayaannya. Pemerintah yang cenderung memacu konsumsi rumah tangga yang saat ini menyumbang 61% PDB (data BPS Triwulan IV 2008) dapat dimanfaatkan perbankan di sektor konsumsi dan pembiayaan komersial terhadap usaha yang menjadi prioritas konsumsi masyarakat. Perbankan pun dapat fokus kepada pinjaman dengan penjaminan (KUR) ataupun pembiayaan proyek-proyek yang dijamin pemerintah karena memiliki ATMR yang rendah. Pada produk kredit konsumsi bank dapat mengincar PNS yang tahun 2009 ini mengalami peningkatan gaji yang cukup menarik disamping itu bank sebaiknya mengincar segmen yang relatif sudah mapan/kalangan menengah atas. Hal tadi sebagai antisipasi di tengah kerentanan PHK yang sedang menghantui dan bisa menjadi bumerang bagi perbankan.
Berdasarkan data BPS pada Triwulan IV 2008 dilaporkan bahwa sektor yang tumbuh significant adalah sektor pengangkutan dan komunikasi yaitu tumbuh sebesar 16,7%. Sektor tersebut diperkirakan berpotensi tumbuh di tahun 2009 mengingat adanya pesta demokrasi yang membutuhkan pengangkutan dan komunikasi cukup banyak. Sebagai multiplier effect sektor perdagangan, hotel dan perdagangan serta kebutuhan akan Listrik, Gas dan air bersih akan meningkat sehingga sektor-sektor ini dapat dijadikan sasaran penyaluran kredit. Sebaliknya sektor komoditas primer tetap wajib diwaspadai dengan runtuhnya harga komoditas dunia untuk itu bank disarankan membiayai usaha yang memiliki nilai tambah lebih dan tidak hanya menjual bahan mentah (primer).
Peran Pemerintah dalam menstimulus
Stimulus yang mencapai Rp 71 T yang telah dijanjikan pemerintah amat sangat ditunggu oleh dunia usaha terutama stimulus yang berupa aliran dana ke sektor riil melalui PNPM, KUR, BLT dan lain-lain. Di samping itu realisasi proyek-proyek pemerintah sangat dibutuhkan segera dieksekusi karena jika terlambat maka dunia usaha sudah terlebih dahulu kolaps yang menyebabkan pengangguran, daya beli turun dan serentetan masalah akan timbul yang dapat berujung pada resesi. Selain daripada stimulus pada sektor riil, perbankan sangat mengharapkan dapat pula menikmati stimulus yaitu pertama insentif pajak sehingga dapat diperhitungkan dalam memberikan pricing suku bunga kredit yang saat ini sangat sulit diturunkan. Hal kedua yang dinantikan perbankan adalah penyesuaian ketentuan ATMR bagi kredit usaha kecil yang masih belum terasa gregetnya pada Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/1/DPNP mengenai Perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko untuk Kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah tanggal 21 Januari 2009. Realisasi stimulus yang cepat dan tepat diharapkan mampu membawa pemulihan ekonomi menjadi lebih cepat.
Langganan:
Komentar (Atom)