Rabu, 29 Juli 2009

Peluang Kemitraan LKM dengan Perbankan

Peluang Kemitraan LKM dengan Perbankan (Investor Daily 29 Juli 2009, Kolom Opini)

Oleh: Djoko Retnadi dan Andreas Hassim, keduanya praktisi dan pengamat perbankan

Walaupun Indonesia menjadi salah satu negara di dunia selain Cina dan India yang berhasil mencatat pertumbuhan ekonominya positif pada triwulan I/2009, namun pertumbuhan ini dinilai belum mengangkat pendapatan masyarakat bawah. Di luar masyarakat miskin yang hanya dapat diberikan bantuan semacam BLT, sebenarnya terdapat lapisan masyarakat bawah yang masih dapat diberdayakan melalui bantuan pemberdayaan keuangan. Program KUR (Kredit Usaha Rakyat) adalah salah satu contoh upaya pemerintah membantu masyarakat mengembangkan potensinya guna meningkatkan pendapatan mereka.
Meski pemberdayaan keuangan masyarakat bawah telah diupayakan oleh pemerintah, namun cakupannya masih sangat terbatas. Oleh karena itu, masih diperlukan adanya keterlibatan lembaga keuangan mikro (LKM). Menurut UKM Center Universitas Indonesia, saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 50.000 LKM beroperasi di Indonesia, baik yang bersifat non formal, semi formal, maupun formal. Walaupun diakui LKM non formal dan semi formal merupakan bagian sejarah perkembangan ekonomi masyarakat, namun eksistensi LKM tersebut cukup sulit dikembangkan oleh pemerintah. Dengan demikian, harapan pemberdayaan masyarakat bawah akan lebih bertumpu pada LKM formal karena aspek legalitas lebih jelas dan relatif mudah diawasi.
LKM formal antara lain Koperasi, BMT, BPR, BKD, dan BRI Unit. Walaupun jumlah LKM seperti BPR telah mencapai 1757 buah dengan 3.422 kantor, BRI Unit 4.400 kantor, DSP 700 kantor namun LKM tersebut, kecuali BRI Unit dan DSP tampaknya masih mengalami kendala sumber dana untuk dapat melayani jumlah usaha mikro yang mencapai sekitar 40 juta unit usaha.

Optimalisasi Fungsi LKM
Di antara LKM yang ada, maka ada tiga pemain utama yang dapat menjadi andalan pemberdayaan masyarakat lapisan bawah yaitu BRI Unit, DSP, dan BPR. Untuk BRI Unit dan DSP sampai saat ini sudah berjalan lancar sedangkan untuk BPR tampaknya masih perlu uluran tangan pihak lain agar daya jangkaunya semakin kuat, khususnya mengenai sumber dana murah.
Keterbatasan langkah BPR dalam pendanaan terlihat jelas dari perbandingan antara kredit yang disalurkan dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dapat dihimpun yaitu mencapai 115%. Komposisi dana mahal berupa deposito mencapai 67% dari total DPK. Dengan kondisi tersebut jelas bahwa BPR sangat rendah daya saingnya jika dihadapkan pada perbankan umum, termasuk BRI Unit maupun DSP. Untuk membantu BPR keluar dari kendala tersebut maka perlu keterlibatan perbankan umum di dalam operasional BPR.
Sebenarnya bank umum telah menjalin kerjasama dengan BPR melalui pola kemitraan (linkage program). Dalam program ini, bank umum memberikan kredit kepada BPR untuk disalurkan kepada para debitor BPR. Pada awalnya program ini tampaknya berjalan lancar sehingga BPR mulai dapat meningkatkan daya ekspansi kreditnya. Namun demikian, pola kemitraan ini rentan untuk berhenti karena dua sebab, yaitu pertama, kenaikan suku bunga kredit perbankan sehingga BPR tidak dapat menjual lagi kredinya dengan tarif kompetitif. Kedua, adanya kasus BPR Tripanca di Lampung yang menyisakan kredit macet bank umum yang menjalin kemitraan dengan BPR tersebut. Kasus BPR Tripanca sedikit banyak berpengaruh pada minat bank umum untuk melakukan program kemitraan dengan BPR. Pola kemitraan tersebut didasari adanya kendala investasi yang sangat besar jika bank umum harus membangun jaringan kantor di pedesaan.
Minat perbankan pada pola kemitraan dengan BPR akhir-akhir ini agak menurun dan perbankan mulai terjun langsung ke bisnis mikro karena adanya potensi yang sangat besar, margin bunga yang tebal, dan tingkat risiko yang relatif lebih rendah. Namun demikian terjunnya bank-bank umum belum mampu menjawab permasalahan masih rendahnya daya jangkau (outreach) LKM pada masyarakat lapisan bawah karena mereka lebih banyak masuk ke daerah-daerah yang sudah lebih dahulu dilayani BPR dan LKM non bank dan bukannya menyentuh daerah-daerah yang belum terjangkau layanan keuangan perbankan.
Didukung dengan pendanaan yang kuat, sistem teknologi yang baik serta SDM yang berkualitas membuat bank-bank umum tersebut jelas menjadi ancaman serius bagi BPR/LKM non bank. Lalu langkah apa yang dapat ditempuh BPR dan bank umum jika pola kemitraan dianggap sudah tidak menarik bank umum? Konsep maju bersama dan sinergi antara BPR dan perbankan dapat dijadikan landasan solusi, sehingga BPR/LKM non bank pada akhirnya akan tetap eksis dan terus bertumbuh.
Salah satu solusi yang dapat ditawarkan adalah meminta beberapa bank umum menjadi bank sentral (APEX) bagi BPR. Dukungan pendanaan dan integrasi sistem informasi dapat meningkatkan daya saing para BPR/LKM non bank dimaksud. Di samping memenuhi fungsi corporate social responsibility, pola kerjasama ini dapat memberikan banyak bisnis bagi bank umum tersebut yaitu tetap dapat melakukan pola linkage, penyediaan jasa pembayaran seperti transfer uang dan pembayaran berbagai tagihan kepada nasabah BPR. Apalagi untuk menjadi bank Apex, sebuah bank umum tidak perlu membuka kantor baru dan cukup mengintegrasi sistem dengan sistem yang ada di BPR, sehingga dapat menekan biaya overhead.
Gerakan penyaluran kredit yang lebih luwes akan dimaksimalkan melalui BPR dan LKM non bank sehingga ekspansi bisnis bank tersebut secara tidak langsung akan lebih efektif dan dapat terus merambah ke daerah-daerah yang belum tersentuh layanan perbankan.

Praktik Terbaik Apex Bank
Luasnya jaringan delivery channel yang dimiliki BPR/LKM non bank, akan dapat mengoptimalisasi fungsi APEX seperti layaknya bank sentral dengan fungsi sebagai pengatur lalu lintas keuangan antar BPR/LKM non bank, memberikan fasilitas pinjaman baik jangka pendek maupun jangka panjang, dan jasa keuangan lainnya yang dapat dieksplorasi sehingga menghasilkan laba bagi APEX.
Ada dua hal yang menjadi kunci sukses APEX agar mampu menjalankan fungsinya yaitu, pertama adalah integrasi sistem informasi. APEX harus membangun sistem informasi yang menghubungkan BPR/LKM dengan APEX. Namun demikian pengembangan sistem informasi yang dilakukan oleh APEX wajib melihat sisi kebutuhan para nasabah pedesaan sehingga ongkos investasi pengembangan teknologi tidak perlu berlebihan (sophisticated). Selain itu melalui sistem informasi dapat dibuat standar analisis kredit dan dokumentasi kredit, sehingga akan berdampak pada membaiknya analisis kredit dan dokumentasi kredit dapat lebih efisien.
Kedua, technical assistance (pola pendampingan) yang diberikan APEX kepada BPR/LKM non bank dan para debitornya. Pola pendampingan yang ditawarkan APEX kepada debitor yaitu dengan menjadi sponsor kegiatan penyuluhan dalam mengembangkan usaha. Dengan menggandeng Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ataupun berbagai Departemen dapat membantu para wirausahawan mengoptimalkan usahanya.
Kisah sukses implementasi Apex Bank atau yang dikenal sebagai second tier bank di negara berkembang di Amerika Latin yang berlangsung lebih dari 15 tahun melalui program IDB (Inter-American Development Bank) mampu mengoptimalkan fungsi LKM.
IDB berhasil menggandeng ratusan LKM di Kolombia, El Savador, Paraguay, Peru dan beberapa negara di sekitarnya untuk mengeksplorasi potensi usaha mikro dengan penyediaan dana maupun program technical assistant (pola pendampingan). Melalui program yang mereka sebut The Microfinance Global Credit Program, IDB memfasilitasi LKM untuk dapat masuk ke pasar usaha mikro.
Program IDB tersebut selain mampu mengangkat taraf hidup usaha mikro (low income) juga mampu membuat para LKM mandiri dan dapat terus tumbuh menjangkau daerah yang belum tersentuh (outreach). Pelajaran yang dapat dipetik melalui program IDB tadi adalah pertama, untuk dapat berkembang secara berkesinambungan IDB pun wajib memperoleh keuntungan dari operasionalnya begitu pula para LKM, namun demikian penetapan pricing yang wajar kepada usaha mikro pun menjadi hal yang penting.
Kedua, maksimalisasi peran NGO (Non Government Organization) atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dalam memberikan penyuluhan kepada usaha mikro. Ketiga adalah dukungan pemerintah setempat dalam menetapkan kebijakan yang mendukung program pengembangan usaha mikro dengan memberikan insentif kepada para pelakunya.

Catatan Akhir
Potensi pembiayaan kepada usaha mikro masih sekitar 40 juta usaha. Bagi bank umum, menggandeng BPR/LKM non bank melalui optimalisasi delivery channel mereka akan dapat menjadi peluang bisnis bagi bank umum. Selain itu uluran tangan yang diberikan oleh bank umum kepada BPR/LKM non bank akan memacu penetrasi mereka dalam menyalurkan kredit kepada usaha-usaha di pelosok tanah air.
Masuknya APEX di tengah BPR/LKM non bank akan dapat meningkatkan efisiensi melalui pemanfaatan teknologi serta optimalisasi berbagai layanan jasa keuangan yang dapat menjadi sumber income maupun meningkatkan funding bagi BPR/LKM non bank. Melalui pola Apex Bank, semoga lembaga keuangan mikro akan semakin dapat berperan dalam mengangkat usaha mikro menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang semakin berkualitas.

Minggu, 05 Juli 2009

Memilih Manusia Setengah Dewa

Bagian 3 : Pemimpin Sejati lanjutan I Have a Dream

Oleh:Andreas Hassim, seorang pemimpi


Alkisah seorang raja yang bijaksana yang memiliki kerajaan yang sangat luas. Pada suatu ketika, semua anak muda di kerajaan tersebut dikumpulkan untuk mengikuti sayembara guna memilih yang terbaik di antara mereka untuk menjadi asisten pribadi raja. Dengan sangat antusias semua anak-anak muda berkumpul di alun-alun kerajaan untuk mengikuti sayembara tersebut. Dengan berbagai tahapan seleksi yang telah dilakukan maka tersisa 3 orang pemuda yang cerdas, tangkas dan gagah berhasil mencapai babak final. Pada babak final ini sang raja berkata bahwa masing-masing dari kalian bertiga akan diberikan sebuah bibit pohon beringin yang siap untuk ditanam. Tugas 3 pemuda tersebut adalah menanam bibit tersebut dan merawatnya dengan pupuk hingga tumbuh. Barangsiapa yang memiliki pohon yang paling subur dan tinggi dari bibit ini dalam waktu enam bulan maka dialah yang akan menjadi pemenangnya. Masing-masing dari mereka pulang dan menanam dalam potnya masing-masing. Seorang di antara mereka bersungguh-sungguh menanam bibit tersebut dan menyiraminya serta memberikan pupuk yang berkualitas. Kesungguh-sungguhan anak muda ini tak dapat diragukan karena siang dan malam yang bersangkutan senantiasa berpikir bagaimana cara terbaik memelihara pot dengan bibit tersebut. Tapi alangkah sedihnya pemuda ini karena setelah sekian lama dengan usaha optimal, bibit tersebut tak kunjung tumbuh bahkan muncul tunas pun tidak.

Waktu enam bulan pun tak terasa telah berlalu dan sesuai instruksi raja dlam sayembara maka 3 orang tadi kembali ke kerajaan dengan membawa hasil pemeliharaan bibit mereka kepada raja. Seorang di antara mereka menunjukan hasil yang cukup baik karena pohon beringinnya telah tumbuh sekitar 1,5 meter. Sedangkan yang satu lagi pohon beringinnya tumbuh dengan tinggi kurang lebih sama dengan yang pertama namun daunnya lebih lebat. Namun si pemuda yang terakhir dengan wajah merah karena olok-olokan dari rakyat yang menonton, membawa pot dengan tanah yang kosong karena usahanya gagal membesarkan si bibit tersebut.

Melihat hasil 3 orang pemuda ini sang raja pun tertawa gembira karena dia telah menemukan seorang calon pemimpin muda yang cerdas dengan integritas yang teruji. Maka pemuda yang potnya tidak ditumbuhi oleh pohon tersebut dinobatkan sebagai pemenang. Serentak rakyat yang menyaksikan terkesima dan memprotes keputusan sang raja.

Sang raja yang bijak pun kemudian menjelaskan bahwa bibit yang diberikan kepada 3 pemuda tersebut adalah bibit yang telah digoreng dan dapat dipastikan bahwa bibit tersebut tak akan pernah tumbuh walaupun dengan perawatan yang super sekalipun. Sang raja pun menjelaskan 3 orang pemuda tersebut telah melewati proses seleksi yang super ketat dan mereka adalah yang terbaik di kerajaannya itu namun sang raja ingin menguji integritas calon-calon pemimpin itu. Maka hari itu juga sang raja menobatkan si pemuda itu sebagai asistennya dan menghukum 2 orang lainnya karena telah berusaha membohongi sang raja.

Menyikapi Sikap Apatis

Kisah di atas membawa pesan moral bahwa terlalu banyak orang pintar namun sangat sedikit orang pintar yang punya integritas yang tinggi. Pemilu Presiden 3 hari lagi akan dilaksanakan yaitu pada tanggal 8 Juli 2009. Suatu peristiwa yang sangat menentukan wajah bangsa ini 5 tahun ke depan apalagi tak tanggung-tanggung anggaran untuk Pemilu mencapai Rp 25 T. Oleh karena itu pesta demokrasi sebaiknya janganlah kita sia-siakan, kita diberikan kesempatan untuk menetukan nasib kita 5 tahun ke depan. Berulangkali saya mendengar sikap apatis teman-teman lewat perbincangan, mailing list, email, sms, facebook dll. Mereka mengatakan tidak ada yang layak jadi pemimpin, semua sama saja dan buat apa saya memilih jika saya tahu kesemua calon memiliki kualitas yang buruk. Pertanyaan saya kepada mereka yang apatis tadi adalah: apakah Anda seorang yang sempurna sehingga anda tidak memiliki cacat dan apakah anda lebih baik dari mereka?

Ada dua pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada Anda yang apastis pertama, Apakah dalam menjalankan kehidupan sehari-hari Anda sudah layak dikatakan orang baik. Saya jadi teringat dosa-dosa saya yang beruntungnya Tuhan tidak menghukum saya tapi selalu memberikan kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya untuk memperbaiki hidup saya.

Kedua, apakah sikap Anda sudah bermanfaat untuk orang lain? Ya lagi-lagi saya malu ketika saya mencibir seorang pengemis di depan wajah saya, lalu ketika saya naik Transjakarta saya selalu cuek kepada orang tua yang berdiri di muka saya, ketika antrian Transjakarta pun berulangkali saya berusaha menyalip orang lain secara tidak sopan, ataupun ketika naik motor saya dengan egois memotong jalan orang sementara pasti mengumpat ketika orang lain memotong jalan saya. Ataupun ketika teman sebelah bangku kerja saya berhasil, kok saya malah mencibir, dan berkata dasar penjilat makanya dapat pujian dari si Bos. Sikap sirik yang berkonotasi ketidakmampuan kita selalu muncul di tengah kesuksesan orang-orang di sekitar kita.

Hal-hal tadi membuat saya sadar bahwa saya adalah seorang oportunis, saya jadi teringat film SOE HOK GIE, dimana Gie adalah seorang aktivis yang aktif mengkritisi pemerintah namun tak pernah mau berkutat pada himpunan kemahasiswaan yang ditunggangi kaum oposisi yang oportunis, hasilnya ketika mahasiswa mampu meruntuhkan orde lama, kawan-kawan aktivisnya mentertawai karena Gie tidak memanfaatkan momentum itu untuk mendapatkan suatu jabatan ataupun pekerjaan di pemerintahan selanjutnya. Tak dapat dipungkiri bahwa pejabat-pejabat orde baru yang menurut orde reformasi sebagai orde paling KKN adalah aktivis pengkritik orde lama dan sepertinya tak etis disebutkan selain itu saya yakin database dan memory Anda sudah cukup untuk mengetahuinya. Dan jangan-jangan saya bisa seperti mereka ataupun lebih gila dari itu dengan memanfaatkan segala sesuatunya untuk kepentingan pribadi ketika kesempatan itu mampir.

Bukankah ini realitas keseharian yang kita hadapi? Egosentris dan selalu merasa paling baik dan sempurna?

Memadukan Kekuatan Calon Pemimpin kita 5 tahun mendatang

Ketika saya membaca media massa atau menonton teve ataupun mendengar radio mengenai biodata 3 pasangan capres dan cawapres, saya amat tercengang dengan latar belakang mereka. Kesimpulannya mereka adalah orang hebat, ya mereka ada yang lulusan terbaik AKABRI, lulusan Wharton Business School yang notabene salah satu universitas terbaik di dunia, kemudian beberapa dari mereka adalah pengusaha sukses dengan berbagai kemahiran lainnya. Sedangkan saya hanya ST (Sok Tahu , hahaha).

Tak dapat dibayangkan jika kekuatan dan kelebihan 3 calon tersebut disatukan pastinya akan menghasilkan hal-hal yang luar biasa. Mari kita bahas kelebihan mereka masing-masing, incumbent dengan jargon LANJUTKAN, ya mereka telah berhasil membuat iklim teror bom lenyap ketika masanya bahkan titik terang penangkapan dan pengeksekusian para pelaku teror bom berhasil terlaksana, pemberantasan korupsi melalui KPK, pengelolaan ekonomi makro yang stabil ditengah terpaan krisis global.

Sedangkan calon lain mengetengahkan ekonomi kerakyatan yang katanya memadukan konsep pasar bebas (neoliberalisme) dengan sosialis, kemudian isu pengelolaan devisa yang lebih akurat yang mengganggap saat ini terlalu bebas mengakibatkan kebocoran devisa mencapai USD 240 M, penjadwalan utang, perkebunan aren yang menyedot lapangan kerja luar biasa, pemberdayaan petani, nelayan dan pedagang pasar tradisional sebagai fundamental perekonomian.

Lain halnya calon lainnya yang juga dapat dikatagorikan incumbent berjanji akan lebih cepat lebih baik dari hasil yang saat ini dicapai, kemudian menjanjikan program pembiaayaan bagi pemuda dan masyarakat dalam memberdayakan usaha mikro kecil dan menengah, menciptakan iklim investasi yang menarik bagi pengusaha dan program menggunakan produk dalam negeri dengan mewajibkan batik sebagai pakaian kerja dan beberapa program yang saya nilai kreatif dan realistis.

Kalau kestabilan keamanaan yang di dukung dengan program ekonomi kerakyatan, iklim investasi yang kondusif kemudian penegakan hukum yang tegas terhadap KKN serta dilaksanakan secara cepat maka tak ayal lagi negara kita pasti akan jauh-jauh lebih baik. Jadi kuncinya adalah siapa pun yang terpilih adalah putera/puteri terbaik bangsa ini dan mereka akan sempurna jika mau menginterospeksi dirinya untuk memadukan konsep-konsep tadi.

Nasib Kita di Tangan Kita Sendiri

Seorang teman kemudian bertanya, ”Memang nasib gue bakalan berubah kalo pemerintahnya si Anu?” Jawab teman di samping saya : “Tidak, nasib lo bukan ditentukan orang lain, bukan juga oleh garis tangan, apalagi bentuk tandatangan, tapi ditentukan seberapa hebat elo memanfatkan tangan lo!”. Dalam hati saya spontan berkata “setuju!”. Mengapa banyak orang menjadi miskin atau gagal kemudian menyalahkan pemerintah. Ini suatu hal yang gak masuk akal, buat saya pemerintah hanya mempengaruhi 10-20% dengan kebijakan yang mereka buat sedangkan sisanya bergantung pada diri kita sendiri. Walaupun hanya 10-20% namun karena yang dipengaruhi adalah sebanyak 240 juta manusia sehingga hal ini sangat signifikan. Namun euforia demokrasi janganlah sampai mengkambinghitamkan pemerintah di setiap kegagalan dan kemiskinan.

Mengapa banyak kuli bangunan seumur-umur menjadi kuli ataupun tukang baso keliling sampai matinya jadi tukang baso padahal tidak sedikit kuli yang sukses menjadi kontraktor ataupun tukang baso yang punya banyak cabang di berbagai ruko. Ada beberapa alasan orang tidak pernah maju yaitu pertama, malas sehingga selalu berpikir rejeki sudah ada yang ngatur, betul tapi di atur sesuai dengan usahanya, bahkan di salah satu kitab tertulis bahwajika seorang tidak bekerja janganlah ia makan. Kedua cepat puas, banyak pedagang keliling yang sudah merasa cukup jika dapat memberi makan keluarganya tanpa semangat ekstra untuk tidak hanya memberi makan tapi meningkatkan kualitas hidup keluarganya. Ketiga adalah sifat konsumerisme, ya banyak kita temui petani sukses di Pantura yang yang kemudian poligami kemudian jatuh bangkrut, kemudian banyak pejabat yang ketika pensiun meninggalkan banyak utang tanpa memiliki aset karena terlena gaya hidup hedonis, ataupun keluarga muda yang terlilit kartu kredit.

“Saya jadi bertanya bagaimana ya nasib bangsa ini jika mayoritas (rata-rata orang Indonesia) seperti saya yang malas, cepat puas dan konsumerisme?” “Pasti isinya orang-orang yang rajin mengeluh tanpa karya tapi masih untung tidak semua orang Indonesia seperti saya. Bagaimana dengan Anda?

Tak terbanyangkan jika standardnya orang Indonesia seperti idola saya macam Pak Kwik, Bu Mulyani atau Pak Barack Obama. Wow pasti akan meLANJUTKAN tradisi MACAN ASIA dengan LEBIH CEPAT LEBIH BAIK!

Ilustrasi dan gambaran realitas kehidupan di atas saya tujukan untuk mengajak teman-teman untuk berpikir ulang untuk menjadi Golongan Putih. Ya itu memang hak Anda, tapi apakah Anda bangga kalau golongan putih menang? Kemudian yang terpilih seorang yang membawa bangsa ini kepada kemunduran (saya berharap tidak pernah terjadi), apakah Anda merasa bahagia karena puas tidak memilih siapa pun? Apakah Anda puas dengan kemenangan Golput sementara bangsa ini terus didera masalah karena ketidakmampuan si pemimpin. Saya sangat berharap hal ini tidak pernah terjadi oleh karena itu marilah kita tentukan nasib kita bersama 5 tahun ke depan dengan mendatangi TPS dan mencontreng satu pasangan calon pada tanggal 8 Juli nanti. Satu pasang calon yang kita yakini dengan nurani dan hasil dari istiqarah yang terbaik untuk dapat membawa bangsa ini kepada kejayaannya.

Sebagai penutup kepada calon pemimpin dan tim sukses beserta pendukungnya (sepertinya hanya pendukungnya yang paling mungkin membaca tulisan ini, hehe) siapkanlah mental Anda untuk menerima apapun hasil pemilu. Bersikaplah sportif dalam menerima kekalahan bukan sebaliknya dengan menyebar isu kecurangan sistemik padahal tidak pernah secara sistemik terbukti atau dibuktikan. Percayalah bahwa incumbent tentunya akan berusaha maksimal dalam mempersembahkan Pemilu di nujung masa jabatannya apalagi DPR/DPRD serta kepala-kepala daerah berasal dari multipartai yang seharusnya penuh dengan fungsi cek dan ricek, kalaupun ada indikasi kecurangan segera buktikan sebelum semuanya dimulai.

Saya sebagai seorang swing voter mengucapkan selamat berpikir bagi swing voter lainnya dalam menentukan pilihan mencontreng, tapi Jangan Kelamaan, hahaha. Selamat mencontreng temans. Merdeka...