Senin, 16 Maret 2009

Mengendalikan Tangan Yang Tak Kelihatan

Oleh : Andreas Hassim, pemerhati sosial ekonomi

Sistem perekonomian kapitalis yang mempengaruhi dunia disinyalir menjadi penyebab timbulnya krisis. Dimana perekonomian dikuasai oleh konglomerat-konglomerat yang bermental serakah dengan spekulasi-spekulasinya guna memaksimasi keuntungan.
Teori Invisible hand Adam Smith yang dianut oleh kaum kapitalis ini akhirnya membutuhkan suatu uluran tangan pemerintah untuk memperbaiki keadaan karena phobia akan hal yang lebih parah terjadi (too big to fail).
Dan menurut hemat saya sebagai negara berkembang keadaan globalisasi yang menuntut kita mengadopsi teori ini haruslah benar-benar disesuaikan dengan kondisi negara kita. Pada satu sisi kita membutuhkan investasi dari para pemilik modal dan di satu sisi kita membutuhkan suatu regulasi sehingga ekonomi kerakyatan yang lemah namun mayoritas tidak terinjak dan mati dengan adanya para raksasa tadi. Keterbatasan modal baik secara materi maupun SDM yang membuat kita tidak dapat menutup diri bagi asing sehingga regulasi yang dapat mengadopsi tuntutan global dan kondisi negara akan menjadi kunci sukses bertumbuhnya negara ini.
Begitu bangganya kita dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6% dan pertumbuhan pendapatan perkapita yang di tahun 2004 baru mencapai 1300 USD telah tumbuh menjadi 2200 USD (bahkan untuk DKI bisa mencapai 7000 USD). Akan tetapi angka kemiskinan naik dari 36,1 juta di tahun 2004 menjadi 41,7 juta manusia di tahun 2008. Hal ini menunjukan bahwa gini ratio/rasio kesenjangan si kaya dan si miskin semakin lebar. Ya, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Inilah akibat penerapan sistem kapitalis. Oleh karena itu diperlukan uluran tangan pemerintah guna mengarahkan suatu pertumbuhan yang lebih berkualitas.
Di tahun 2009 ini ancaman pertumbuhan ekonomi dibawah 4% mengintai negeri ini. Hal ini terlihat dari merosotnya ekspor, meningkatnya pengangguran & angka kemiskinan sehingga daya beli pun merosot. Laju perlambatan permintaan ekspor dan turunnya harga komoditas dunia menjadi salah satu sebab merosotnya nilai ekspor kita sehingga pemberdayaan ekonomi domestik menjadi jalan keluar yang dapat dioptimalkan.
Ketika konsumsi dan investasi swasta tak lagi mampu mengangkat perekonomian maka sesuai teori Keynes pemerintah harus segera meningkatkan pengeluarannya. Padahal di satu sisi pemerintah memiliki keterbatasan anggaran apalagi di tengah penurunan pendapatan karena beberapa komoditas turun harganya.

Langkah-langkah strategis pemerintah
Kebijakan pemerintah dalam pembangunan yang berkualitas merupakan hal yang paling penting disamping dukungan implementasi dari segenap rakyatnya. Oleh karena itu langkah-langkah strategis sangalah dinantikan oleh segenap rakyatnya.
Langkah pertama adalah optimalisasi apa yang kita miliki (SDA & SDM). Apa yang kita miliki? Bosan saya berbicara kekayaan negeri ini yang pasti negeri ini gema ripah. Kita punya cadangan minyak mencapai 8,4 miliar barel (akan habis selama 24 tahun dengan asumsi produksi saat ini skitar 925.000 barel/hari), cadangan batu bara mencapai 18,7 miliar ton (akan habis dalam 75 tahun dengan asumsi produksi saat ini 250 juta ton pertahun, pertambangan batubara terbesar di dunia ada di Kalimantan), cadangan gas alam mencapai 165 trilyun standar kubik (eksportir no 1 sedunia), sedangkan sumber energi lainnya seperti panas bumi, air terjun dan lainnya juga dimiliki negeri ini.
Kita punya logam & mineral berupa emas(di Timika ada gunung emas dengan diameter 100 km saat ini sudah berupa danau dan rakyat papua di sana masih miskin dan mengais-ngais emas hasil limbah freeport), perak, tembaga, nikel, alumunium, timah dan sebagainya.
Untuk kekayaan alam lainnya kita merupakan penghasil rotan no 1 sedunia, perkebunan CPO terbesar sedunia tapi ekspornya kalah dengan Malay, kita punya coklat tapi mengapa coklat van houten (netherland) jauh lebih terkenal, kemudian kopi, beraneka rempah-rempah dan masih banyak hasil alam yang dapat diandalkan.
Lautan kita sangat luas dengan panjang pantai kita merupakan yang terpanjang no 2 sedunia setelah Kanada. Ikan, udang, rumput laut dan hasil laut lainnya sangat melimpah dan belum dioptimalkan bahkan banyak nelayan negara tetangga mencuri ikan di perairan kita.
Kekayaan tadi diharapkan mampu diberdayakan sehingga kita mampu swasembada pangan dan memiliki kemandirian energi serta mampu memberi nilai tambah di setiap kekayaan alam tersebut (tidak hanya menjual barang mentah).
Langkah kedua adalah prioritas penggunaan anggaran pembangunan. Dengan prioritas anggaran tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkatkan kesejahteraan masyarakat yang sebelumnya miskin. Mari saya tunjukan contoh betapa pentingnya prioritas tersebut. Pertama dengan segala hormat saya mohon maaf kepada Prof Habibie karena saya mengkritik beliau. Ya, apakah anda ingat program produksi pesawat Nurtanio / IPTN yang menghasilkan CN 235 yang kemudian hanya laku dijual ke Thailand dan ditukar dengan beras. Ya secara gengsi saya setuju program pak habibie perlu di dukung apalagi negeri kita merupakan negeri kepulauan yang sangat membutuhkan alat transportasi berupa pesawat.
Anggaran produksi pesawat (saya tidak tahu persis angkanya, namun secara logika, pasti membutuhkan biaya yang sangat besar untuk sebuah gengsi) tersebut jika dialihkan ke sektor pertanian ataupun kelautan yang padat karya tentunya akan sangat menurunkan angka pengangguran yang berbuntut turunnya kemiskinan.
Saya sangat setuju jika pengembangan teknologi menjadi salah satu kunci sukses pembangunan. Oleh karena itu pembangunan yang memiliki tahapan dan perencanaan yang matang akan lebih baik. Mari saya contohkan, ketika IPTN membuat pesawat, tentunya banyak onderdil-onderdil ataupun mesin yang diimpor karena belum mampu kita produksi, padahal pengembangan teknologi tidak harus langsung memproduksi CN 235 akan tetapi teknologi muktahir dimulai dari hal-hal kecil dulu, misalnya menciptakan ban pesawat yang luar biasa sehingga muncul permintaan dari berbagai negara karena keunikan teknologi yang tidak dimiliki negara lain.
Ironi cerita di atas terlihat nyata bahwa kita pernah bisa memproduksi dan menjual pesawat ke luar negeri namun belum mampu membuat mobil nasional yang A-Z-nya dilakukan di tanah air.
Sehingga penentuan prioritas dalam penentuan anggaran benar-benar menjadi hal yang sangat menentukan sukses atau tidaknya program pembangunan tersebut.
Langkah Ketiga adalah Kebijakan pemerataan. Maksud dari langkah ini adalah berupaya semaksimal mungkin untuk mempersempit jurang antara si kaya dan si miskin. Dari data peningkatan pendapatan perkapita yang terus naik namun jumlah orang miskin bertambah membuktikan bahwa kebijakan kita saat ini sangat membantu si kaya dan menyulitkan si miskin, kemudian swasembada beras yang tahun 2008 kemarin berhasil dicapai kembali tapi kok petaninya tambah miskin hal ini berdasarkan survey kepemilikan lahan mereka, mereka ternyata orang upahan, ya inilah dampak buruk sistem ekonomi kapitalis.
Sehingga dibutuhkan suatu terobosan yang tidak populis mengakselerasi si miskin dengan konsekuensi si kaya terhambat, kemudian pendapatan perkapita mungkin saja turun tapi saya yakin pengangguran dan kemiskinan turun secara drastis.
Menjadikan desa dan perkampungan sebagai pusat pembangunan dapat dijadikan ide dasar penerapan kebijakan ini. Akan tetapi kebijakan ini tidak bisa serta merta digelontorkan begitu saja, kesiapan infrastruktur yang memampukan desa sebagai pusat pembangunan juga wajib disiapkan terutama SDM-nya.
Ya kebijakan ini pasti banyak ditentang banyak orang, yang pasti orang-orang yang punya duit karena mereka akan sulit sekali mengembangbiakan kekayaannya. Law enforcement pada kebijakan ini akan pula menentukan berhasil atau tidaknya kebijakan ini.
Langkah keempat, maksimalkan pasar domestik. Pakailah produk dalam negeri, begitulah slogan Barack Obama sekarang, bahkan Obama juga melarang beberapa produk yang diimpor namun mewajibkan rakyatnya menggunakan produk dalam negeri walaupun harga lebih mahal dan kualitas tidak lebih baik. Ya inilah proteksionisme yang seharusnya juga wajib dilaksanakan pemerintah (ya mungkin kita tidak bisa sevulgar AS sbg negara adidaya karena berisiko dimusuhi dunia global namun proteksionisme dapat dilakukan secara terselubung). Beri teladan dan maksimalkan produksi dalam negeri kalau bisa pemerintah lebih dulu yang menyerap produk-produk tersebut.
Langkah kelima, Gerakan Nasional bekerja dan berkarya. Ya semangat membangun tidak bisa hanya dimiliki oleh pemerintah namun juga harus didukung segenap lapisan masyarakat. Dengan sebuah gerakan nasional bekerja dan berkarya akan membuat malu dan gerah si pemalas sehingga mau melakukan sesuatu hal yang positif. Gerakan bekerja dan berkarya harus secara berkesinambungan di teriakan sampai ke pelosok-pelosok dan dibuat suatu mekanisme yang menggugah orang untuk terus bekerja dan berkarya. Sikap puas dengan keadaan dan sikap konsumtif yang berlebihan harus dapat dikikis dari kehidupan bangsa ini. Perhatikan desa-desa di pesisir pantai Utara Jawa(maaf ini hanya sebuah contoh sebenarnya masih banyak lagi tempat lainnya), budaya kawin cerai menjadi hal yang menghambat kemajuan daerah tersebut. Ketika seseorang mulai berhasil mereka langsung puas dan bersikap konsumtif dan yang lebih parah lagi mereka menikah kembali dan memiliki banyak anak yang pada akhirnya si anak tidak terurus. Efek domino kejadiannya ini terus menerus terjadi seperti lingkaran setan. Semoga dengan gerakan nasional dan tuntunan kerohanian dapat merubah budaya buruk tersebut menjadi semangat bekerja dan berkarya.

Penutup

Jika kelima langkah tersebut telah terkonsep dengan tepat dan terimplementasikan secara disiplin saya yakin negeri ini akan maju dan berjaya. Saya rindu China merengek-rengek minta batubara, kemudian memaksa Jepang mendirikan pabrik di negeri kita dan kalau tidak mau jangan ekspor gas alam kepada mereka, lalu Amerika mengemis meminta emas yang mereka curi dari Timika. Selain itu hutan kita merupakan paru2 dunia sehingga rusaknya hutan kita akan mengganggu metabolisme dunia maka perintahkan bangsa-bangsa itu menurunkan anggarannya guna menjaga hutan kita.
Penjabaran ini sebenarnya masih terlalu panjang, namun yang ingin saya sampaikan bahwa pentingnya sebuah pemerintahan yang mampu menegakkan kebijakan yang mampu meningkatkatkan kesejahteraan, harkat dan martabat segenap bangsa ini. Sebuah kuasa yang mampu mengendalikan The Invisble Hand menuju kemakmuran yang berkeadilan sosial. Ya sepertinya kita butuh seorang pemimpin yang bertangan besi untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang sangat berat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar