Oleh : Andreas Hassim, adalah seorang pemimpi
Bagian Kedua dari : Pemimpin Sejati
I have a dream merupakan judul pidato seorang Marthin Luther King Jr di hadapan 250.000 massa pendukung hak-hak sipil bagi orang kulit hitam di tangga Lincoln Memorial Washington tahun 1963. Dan pada tanggal 4 April tahun 1968 King dibunuh usai berpidato berjudul “Saya sudah melihat tanah yang dijanjikan” satu hari sebelumnya.
Akhirnya judul pidato terakhir itu menjadi kenyataan dan bahkan awal tahun 2009 orang kulit hitam yang diperjuangkannya dapat dipercaya memimpin sebuah negara adidaya, ya Barack Husein Obama.
Apakah reformasi di negeri kita dapat menciptakan pemimpin yang sejati? Untuk mencapai ke sana tentunya butuh proses dan melalui pengorbanan seperti halnya Marthin Luther King Jr. Siapapun dia asalkan jujur, berani berkorban dan cerdas pilihlah dia !!!
Belajar dari hal itu saya mengajak para pembaca untuk mempunyai mimpi memiliki pemimpin yang sejati. Pemilu Legislatif sudah di depan mata, tgl 9 April 2009, namun beberapa lembaga survey memprediksikan golongan putih mencapai 40% dari sekitar 170 juta calon pemilih. Suatu hal yang sangat menyedihkan buat bangsa ini, sebagai tanda kepedulian dari 40% rakyat terhadap nasib bangsa sudah luntur. Ketika saya menyampaikan hal ini beberapa teman dan saudara saya nyeletuk : “gak ngaruh buat idup gw, sapa aja yang mimpin hasilnya sama saja. Kalau beberapa politisi yang baru muncul punya ungkapan rakyat bosan sama 4 L ( Lu Lagi Lu Lagi) maka teman dan saudara saya punya slogan 4 S ( Siapa Saja Sama Saja).
Wabah apatisme masyarakat terhadap pemerintah maupun parlemen sudah sedemikian parahnya. Ya gimana melihat mereka yang bermewah-mewah dengan fasilitas anggota dewan yang terhormat, bersikap arogan di tempat umum sambil ngomong mang lo gak tau sapa gue, malah ada yang pernah mengacung-acungkan pistolnya, tapi gak pernah diusut, trus ada bbrp ketangkap basah disuap, ada lagi yang ketauan minta PSK untuk sebuah keputusan, ada yang melecehkan sekertarisnya.
Menurut lagu yang diciptakan salah satu budayawan yang saya kagumi, Gak usa pikirin akhlaknya yang penting dia adil dan tegas. Setuju bang, silakan bertingkah aneh yang penting jangan bawa institusi dan tidak mencuri uang institusi serta gunakan hak dan kewajiban sebagaimana mestinya.
Pemerintah dan parlemen 2004-2009
Pemilihan Umum tahun 2004 telah menghasilkan anggota dewan dan pemerintahan yang sebentar lagi mengakhiri masa jabatannya mari kita lihat raport mereka ketika menduduki posisi tersebut. Di sini saya tidak ingin menghakimi seseorang oleh karena itu saya hanya akan menceritakan kisah sukses periode ini.
Sukses pertama adalah penegakan hukum dan pengungkapan kasus korupsi yang mengalami peningkatan secara signifikan. Kedua pada periode ini bangsa ini kembali dapat berswasembada beras (terakhir pada zaman orde baru). Ketiga, pengangguran menurun dari 10% ditahun 2004 menjadi 8,39% di akhir 2008, naiknya pendapatan perkapita dari 1300 USD menjadi 2200 USD dan pertumbuhan ekonomi tertinggi setelah zaman orde baru. Serta berbagai indikator makroekonomi yang relatif membaik menurut beberapa ekonom pemerintah walaupun secara global pertumbuhan beberapa negara besar bergerak ke angka minus. Ya dibalik berbagai kekurangannya kita wajib menghargai kerja keras dan keberhasilan pemerintah periode ini karena pemerintah periode 2004-2009 merupakan pilihan rakyat. Sebaliknya jika kita berpendapat bahwa pemerintah dan parlemen periode ini mengecewakan maka sekaranglah waktunya menghukum mereka dengan tidak memilih mereka lagi di pemilu 2009.
Siapkan diri menjadi Pemimpin
Menurut saya Akar permasalahan pro kontra di atas adalah kita kekurangan stok pemimpin berhati hamba. Mari saya contohkan.
Di Negeri kita saat ini terlalu sedikit orang seperti Pattimura, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Sultan Hasanudin, dll yang rela mengorbankan jiwa raganya untuk kemerdekaan. Kemerdekaan dari kelaparan, kemerdekaan dari kebodohan dan kemerdekaan secara ekonomi dari cengkraman bangsa lain yang berupaya membodohi kita. Tetapi yang banyak di negeri kita adalah pemimpin semacam Amangkurat I & II raja Mataram yang menjual negeri ini.
Siapa tak kenal bapak Jend Soetanto, seorang Jendral Polisi yang bersih, Siapa tak kenal bapak Abdurahman Saleh mantan jaksa Agung yang bersih (sampai-sampai dijuluki ustad di dalam sarang penyamun), siapa tak kenal Ibu Sri Mulyani yang masuk jajaran 50 wanita terkuat sedunia melampaui Ibu Hillary Clinton, ibu Mul yang cerdas, berintegritas dan sederhana. Siapa juga tak tahu seorang Hidayat Nur Wahid Ketua MPR yang bersahaja, idealis dan pro kepada rakyat. Dan masih ada beberapa nama yang dapat kita sebutkan (saya yakin teman-teman tahu kok, hehe)
Permasalahannya adalah seberapa banyak orang seperti mereka, kalau ada sistem dapat mengkloning mereka sehingga muncul puluhan Soetanto, ratusan Abdurahman Saleh, ribuan Sri Mulyani dan jutaan Hidayat Nur Wahid saya yakin negeri ini akan lebih kencang dari pada sprinter peraih medali emas Olimpiade dan saya yakin melampaui negeri yang disebut emerging country BRIC (Brazil, Rusia, India & China). Apa perlu kita pinjam jasa Noerdin M Top seorang teroris yang konon punya keahlian mendoktrinasi banyak orang sehingga cara berpikirnya bisa ter-kloning-kan.
Ya, maksud saya adalah keseragaman pola pikir para pejabat mulai dari tingkat terendah sampai tertinggi semua berorientasi bagi kemajuan bangsa. Sulit? Ya, tapi bukan berarti tidak mungkin karena tidak mungkin seorang Soetanto bekerja sendirian membasmi seorang mafia bisnis ilegal tanpa pasukan dan dukungan SEMUA PIHAK, karena taruhannya nyawa bung! pernah nonton ataupun baca THE GOD FATHER kan? Begitu pula seorang Abdurahman Saleh memberantas mafia peradilan hanya bersama segelintir kelompoknya, apa yang terjadi, mungkin dia mati diracun di luar negeri, keluarga rekan yang membantu diteror bahkan terbunuh atau hal buruk lainnya menimpah beliau dan keluarganya. Begitu pula seorang Sri Mulyani dengan ide-ide briliannya melakukan A-Z idenya supaya tidak ada kebocoran anggaran dan ini pun taruhannya juga nyawa, tapi saya salut beliau seorang pemberani, masih ingat beliau pernah menginstruksi salah satu bank BUMN untuk mengalihkan dana seorang “BENTO” ke kas negara karena diduga hasil korupsi. Ataupun seorang Hidayat Nur Wahid mampu mencegah suapan-suapan dari berbagai pihak kepada sekitar 1000 anggota MPR. Munginkah ? kalau cuma seorang ataupun segelintir?
Ya ilustrasi ini benar-benar menggambarkan untuk menjalankan amanah 240 juta manusia Indonesia sangat sulit ada nyawa menjadi taruhannya dan ada juga karir. Masakan karir untuk menjadi orang nomor satu di Kepolisian harus terjungkal (bukan perkara muda pren coba bayangkan jika Anda yang telah berprestasi dengan cucuran keringat selama puluhan tahun dan seharusnya promosi namun yang terjadi sebaliknya demosi karena pendapat ANDA yang “mengganggu” para GOD Father, Siapkah ANDA???, mungkin anda siap tapi bagaimana anak, istri dan saudara anda)
Sadar akan hal ini saya jadi malu, ketika mahasiswa saya teriak-teriak menyumpahi pejabat-pejabat yang duduk di sana, padahal setiap hari saya korupsi waktu untuk fesbukan, ataupun saya tergoda untuk mencuri uang rapat/workshop karena sepanjang rapat tak satu ide pun muncul bahkan saya ngobrol, smsan dll, padahal kalau saya nonton TV dan saya lihat anggota DPR spt itu, saya pasti umpat dia. Dan masih banyak lagi namun kurang etis kalau saya jabarkan.
Tindakan2 seperti itu semakin saya sadar kalau saya seorang oportunis, penjilat ludah sendiri dan sama dengan kebanyakan orang.
Jadi apa yang harus saya lakukan kalau kondisinya seperti ini! Ingat kita selalu menuntut supaya orang begini & begitu namun kita tidak pernah rela merubah kebusukan yang ada dalam diri kita. Marilah kita tumbuhkan kepedulian itu, siapa calon pemimpin itu? ANDA, ya sebagai pembaca tulisan ini, saya berharap ANDA tergugah melakukan sesuatu bagi bangsa ini sesuai bidang ANDA. Saya yakin Anda orang yang tepat setidaknya untuk beberapa alasan, yang pertama, jika ANDA seorang pekerja anda lebih hebat dari jutaan penganggur, toh seharusnya Anda mampu memimpin mereka, jika Anda Mahasiswa seharusnya Anda berbangga karena ada jutaan orang yang tidak pernah mampu kuliah dan yang ketiga Anda orang bernurani baik, ya karena Anda tersentuh ingin memberikan sesuatu bagi bangsa ini ketika membaca tulisan ini (hehe...). dan masih banyak hal lainnya.
Namun yang pasti ANDA tercipta di dunia ini untuk suatu rencana indah Sang Khalik, nasibmu ada di tanganmu sendiri bukan pada garis tanganmu dan bukan dari bentuk tanda tanganmu. Jadilah orang yang berguna, berkaryalah sehingga kelak kita meninggalkan dunia ada sesuatu karya yang indah yang telah kita buat dan upah kita besar di SurgaNYA. (Untuk hal yang tidak pasti saja kita perlu siapkan, apalagi kematian merupakan hal yang sudah pasti dialami setiap manusia). Mari kita beri yang terbaik dan siapkan diri menjadi pemimpin karena kalau bukan ANDA siapa lagi?
Siapa yang harus saya pilih
Sekitar 200 ribu caleg di seluruh indonesia berkompetisi untuk kursi DPR, DPD maupun DPRD. Semenjak zaman reformasi dengan tumbuhnya berbagai partai politik dan undang-undang pemilu yang demokratis membuka kesempatan berbagai kalangan menjadi legislatif. Tokoh masyarakat dan para artis pun seperti ketiban durian runtuh karena dengan pemilihan langsung tunjuk orang seperti saat ini ketenaran dan image mereka di tengah masyarakat sangat menentukan.
Slogan keberhasilan diucapkan pejabat incumbent, yang saling menjual saya sudah bikin ini dan itu. Sebaliknya si oposisi bicara kalau incumbent gagal ini dan itu. Jadi bingung, siapa yang benar ya?
Ada dua hal yang perlu kita cermati dalam menentukan pertama visi dan misi yang jelas, maksudnya, beberapa partai dan petingginya serta calegnya berulangkali berbicara normatif seperti: saya akan turunkan harga sembako, menciptakan lapangan pekerjaan, naikan kesejahteraan rakyat, dll. Tetapi yang perlu dicermati adalah bagaimana cara mencapai cita-cita mulia itu. Itu semua perlu duit, dari mana? Bagaimana caranya? dst. Kalau cuma sampai di sana, tidak jauh beda ketika seorang anak kecil berhasil menghafal Pancasila karena isinya sangat luar biasa, tapi ketika di tanya Bagaimana merealisasikan cita-cita tersebut? Mereka aa uu... (program ekonomi menurut opini saya dapat dilihat pada tulisan berjudul “Mengendalikan Tangan Yang Tidak Kelihatan”)
Kedua, diisi oleh orang-orang yang jujur, berani dan cerdas. Mari kita cari tahu siapa sih caleg yang ingin kita pilih. Sekarang informasi sangat terbuka ada koran, internet, TV dll. Di tengah informasi yang bebas spt sekarang ini seharusnya dengan mudah anda tahu siapa yang anda pilih karena sudah tidak zaman kita hanya tahu Parpol saja. Apa kata dunia? Ayo tunjukan kepedulianmu dengan mulai mencari tahu!
Kalau semua pemilih berpikir seperti itu saya yakin seharusnya kita memiliki pemerintahan yang tangguh. Kalaupun nantinya gagal total, kita tidak layak menyalahkan pemerintahan dan parlemen yang telah kita bersama pilih, yang patut kita salahkan adalah diri kita sendiri, setidaknya KITA SALAH PILIH dan masih serentetan kesalahan kita yang lain.
Sebagai seorang pemimpi saya bermimpi memiliki pemerintahan yang solid dikelilingi oleh parlemen yang secara berkesinambungan mengontrol jalannya pemerintahan menuju Indonesia yang adil dan makmur. Dan dalam mimpi saya, saya melihat Anda menjadi presiden dan Anda-Anda yang lain menjadi parlemennya. Doa saya selalu menyertai teman-temanku semoga cita-cita tersebut bisa bersemi dan tidak layu / mati sebelum berkembang. Amin.
Senin, 16 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
makin mantab aja tulisannya nih,,
BalasHapusin general, gw setuju dg saran lu pu, semua kita mulai dr diri sendiri, belajar pimpin diri kendalikan nafsu thd kemewahan & keindahan dunia yg hanya sementara ini,
tp gw rada gak setuju ama filosofinye budayawan yg sama2 kita kagumin,,hehe, "ga usah pikirin akhlak selama dia adil&cerdas",,buat gw ini doktrin dualisme yg rada kurang tepat.
Pemimpin sejati haruslah berakhlak,,krn dia akan jadi cermin bagi penerusnya.
Satu lagi, pemimpin sejati haruslah seorg visioner,terutama dalam mempersiapkan kader2nya. Bisa jadi dia sukses membawa negri ini, tp apa jadinya kl dia udah lewat,,apa harus terpuruk lagi,,hehe.