Senin, 23 Februari 2009

Risiko dan Peluang Kredit Konsumsi 2009

Oleh : Andreas Hassim, bekerja di Bank BRI. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

Gelombang krisis keuangan global yang dampaknya sudah terasa di Republik kita dan tentunya mengganggu kinerja perbankan ke depannya. Bank yang memiliki fungsi sebagai lembaga intermediari tetap dituntut menjalankan fungsi tersebut secara maksimal namun di sisi lain bank juga harus menjaga kualitas aset berupa kredit tersebut.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi pastinya akan menjadi penghambat sektor riil dalam menyerap kredit. Omset penjualan yang turun mengakibatkan inventori dan piutang turun yang sudah tentu menyebabkan kebutuhan modal kerja turun serta membuat pelaku usaha berpikir ulang untuk melakukan investasi. Hal ini pastinya akan menekan permintaan kredit produktif dan sangatlah berbahaya jika penyerapan kredit dipaksakan atau tidak disesuaikan dengan kebutuhan modal kerja ataupun investasinya. Pemerintah wajib melakukan stimulus dari berbagai sektor terutama infrastruktur dan mendorong daya beli masyarakat sehingga dapat memutar roda perekonomian. Dan pada kondisi tersebut kredit konsumsi dapat dijadikan tumpuan bagi penyaluran kredit perbankan.

Potensi Kredit Konsumsi
Alasan yang dapat dijadikan dasar memperkuat pemikiran di atas adalah adanya beberapa potensi seperti: pertama, 57,8% PDB Indonesia (Data BPS Triwulan III 2008) merupakan konsumsi rumah tangga yang nilai nominalnya terus tumbuh dari tahun ke tahun. Kedua, tahun 2009 merupakan tahun pemilihan umum, dimana pada umumnya pemerintah cenderung melakukan kebijakan-kebijakan populis, seperti kenaikan gaji PNS (terutama bidang pendidikan, 20% APBN) dan juga ada belanja caleg yang yang cukup besar (+/- 200.000 Caleg yang wajib menyediakan dana sekurangnya masing Rp 200 juta, berarti ada pembelanjaan +/- Rp 40 T) serta belanja masing-masing partai politik (percetakan, iklan media, entertainment dll).
Ketiga, Subsidi Pemerintah untuk kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan dibawah Rp 4,5 juta naik menjadi Rp 2,5 Trilyun dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 800 Milyar. Keempat, rasio kredit konsumsi terhadap PDB Indonesia hanya 8%, sangat kecil dibanding negara-negara tetangga (Thailand 30%, Singapore 50% dan Malaysia 60%). Kelima, fundamental makro ekonomi dalam negeri yang cukup baik dan ketergantungan terhadap ekspor yang relatif rendah dibandingkan negara-negara lain (hanya 28.6%, Data BPS Triwulan III 2008).
Risiko
Dalam setiap ekspansi bisnis di tengah peluang-peluang yang terbuka tentunya akan tetap dibayangi oleh risiko yang menghantui. Risiko tersebut muncul sebagai akibat multiplier effect krisis keuangan global yang melanda negara-negara maju dan tentunya mengganggu kinerja ekspor negara emerging market. Selain itu kejatuhan harga komoditas dunia juga dapat merusak tatanan industri dalam negeri dan akan menjatuhkan ekspor dan sebaliknya dapat memacu import, karena produk import lebih murah. Hal-hal tadi berbuntut pada PHK masal dan penurunan daya beli masyarakat.
Namun demikian risiko di atas tidak hanya dialami oleh ekspansi kredit konsumsi melainkan kredit-kredit lainnya. Risiko yang lebih spesifik adalah pemberian kredit konsumsi bagi pegawai berpenghasilan tetap di perusahaan yang rentan dampak krisis keuangan global. Selanjutnya yang lebih membahayakan adalah ekspansi kredit konsumsi kepada khalayak yang sebenarnya tidak layak diberikan kredit (subprime). Saat ini ada kecenderungan bank-bank terlampau ofensif dalam kompetisi penerbitan kartu kredit dengan berbagai kemudahan dan perusahaan pembiayaan dengan mudahnya menyalurkan kredit kendaraan bermotor ataupun perlengkapan elektronik. Kejelian para bankir dalam memaksimalkan peluang bisnis konsumsi dengan pengelolaan risiko yang baik sangatlah dinantikan di tahun 2009.

Kunci Sukses Kredit Konsumsi
Dalam mencapai kesuksesan dalam bisnis konsumsi maka kita perlu memahami beberapa karakter kredit konsumsi agar strategi pengembangan bisnis kita tidak salah arah yaitu: Pertama, dikendalikan penjual, artinya bahwa penjual barang atau jasa mengendalikan seseorang dalam menentukan lembaga keuangan. Contoh mudahnya adalah jika seseorang ingin membeli mobil, dia tidak akan pergi ke bank melainkan showroom/dealer. Sehingga kedekatan hubungan dengan rekan bisnis menjadi kunci untuk menjadi pemain yang diperhitungkan pada bisnis ini.
Kedua, produk masal, artinya bahwa kredit konsumsi yang memiliki besaran per nasabah yang kecil namun masiv maka harus memiliki aturan baku yang terformulasi sesuai dengan kebutuhan pasar (not tailored made process).
Ketiga, Kompetisi yang ketat, artinya dalam kredit konsumsi terdapat banyak pemain seperti Bank, Perusahaan pembiayaan, Perum Pegadaian, dll. Hal ini dapat kita amati setiap hari di berbagai media massa banyak terjadi perang penawaran kredit konsumsi baik antar bank maupun perusahaan pembiaayan. Masing-masing dari mereka akan berkolaborasi dengan pihak penjual barang dan jasa dengan menawarkan berbagai nilai tambah dan kemudahan, hal yang jarang kita temui pada kredit komersial pada umumnya.
Keempat, kemasan produk yang menarik, artinya dalam kredit konsumsi diperlukan suatu unsur yang provokatif mendorong seseorang untuk melakukan konsumsi barang ataupun jasa karena kemasan yang menarik. Dapat kita perhatikan suatu developer rumah bersama bank X menawarkan bunga 0% untuk satu tahun pertama ataupun kredit tanpa DP. Lain lagi dengan penawaran penawaran sebuah finance ataupun kartu kredit dengan menawarkan discount produk sekaligus dengan cicilan 0% selama beberapa bulan. Inilah yang dikenal dengan istilah marketing gimmicks dalam kredit konsumsi, kolaborasi antara bank dan pihak penjual dalam membuat paket-paket penjualan yang menarik dan hal ini menuntut kreativitas yang tinggi dan kemahiran matematika keuangan agar paket tersebut tidaklah merugikan pihak bank maupun pihak penjual namun efektif menjerat pelanggan.
Berdasarkan empat karakter tersebut maka Bank perlu menciptakan produk yang unggul dengan proses yang prima dan mampu menjawab kebutuhan pelanggan.

Catatan Akhir
Kue besar kredit konsumsi ini sangatlah menjanjikan untuk menjadi target ekspansi dengan berbagai metode yaitu secara retail banking maupun linkage. Untuk penjualan secara retail, bank akan mengalami kompetisi yang super ketat maka metode menempel pada perusahaan dimana calon nasabah bekerja akan lebih efektif. Bank juga perlu mengukur efektifitas (benefit & cost ratio) berperang suku bunga kredit konsumsi ataupun penggunaan dana promosi untuk memperoleh pasar retailnya. Oleh karena itu metode linkage sangatlah menjanjikan, yaitu bank melakukan kerjasama pembiayaan (joint financing) kepada perusahaan pembiayaan ataupun perusahaan anjak piutang. Penentuan komposisi ekspansi yang tepat baik secara retail maupun linkage guna mencapai keuntungan yang optimal dan mendiversifikasi risiko merupakan hal yang perlu diperhatikan bank untuk berkembang secara organik.
Disamping berkembang secara organik, bank juga dapat berkembang secara anorganik yaitu dengan mengakuisisi perusahaan pembiayaan. Dapat kita perhatikan bank-bank besar relatif sudah memiliki anak usaha berupa multifinance yang mapan. Bahkan tahun 2008 ada bank besar yang getol mencari multifinance untuk diakuisisi dan pada akhir tahun 2008 berhasil membelinya.Pasar konsumsi merupakan pasar masal yang sangat potensial disamping pembiayaan usaha mikro, untuk itu diperlukan kecermatan pelaku perbankan dalam menetapkan strategi ekspansi, penciptaan produk, penentuan segmen market yang dituju serta pengelolaan risiko yang mantap menjadi kesatuan kunci sukses dalam bisnis kredit konsumsi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar