oleh : Andreas Hassim, bekerja di Bank BRI, tulisan ini merupakan pendapat pribadi
Permasalahan utama di negeri kita disinyalir karena rapuhnya sektor riil sehingga berulang kali ketika badai krisis melanda, maka angka-angka makro ekonomi yang sebelumnya begitu baik menjadi sangat riskan. Pertumbuhan ekonomi yang tidak didukung dengan tumbuhnya sektor riil melainkan gelembung sektor finansial ditenggarai sebagai asal muasal kelabilan kondisi ekonomi Indonesia. Fokus pada pertumbuhan sektor riil akan menjadi obat mujarab menjaga kestabilan perekonomian dan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.
Berulang kali kita terlena dengan cantiknya angka-angka makro ekonomi dan fenomena ini terus terjadi yaitu ketika kejatuhan orde baru kemudian ketika orde reformasi baru mulai merangkak memperbaiki kejatuhan orde baru dan sampai saat ini menjelang Pemilu ketiga setelah jatuhnya orde baru, dimana pejabat incumbent terlena dan memproklamirkan keberhasilan dilihat secara makro.
Mungkin kita sering mendengar para ekonom pemerintahan menyampaikan data-data makro yang aduhai. Ekonomi tumbuh 6,4%, pendapatan perkapita telah tumbuh mencapai 2000-an USD, angka penganguran terus turun, angka kemiskinan juga menunjukan penurunan (s/d pertengahan 2008 sekitar 16%).
Rupiah yang stabil di angka Rp 9.000 – Rp 9.500,-, inflasi relatif stabil dan nominal cadangan devisa berulang kali memecahkan rekor. Namun apa yang terjadi ketika guncangan ekonomi melanda AS maka fondasi ekonomi Indonesia yang digembor-gemborkan kuat itu ternyata terlampau keropos menahan badai yang seharusnya hanya terasa seperti angin sepoi-sepoi.
Pertumbuhan ekonomi yang menurut BPS akan menyerap 700-ribuan tenaga kerja dari setiap pertumbuhan 1%, tidak menurunkan angka penganguran secara significant karena diikuti laju pertumbuhan angkatan kerja yang tinggi. Selain itu pertumbuhan ekonomi kita pun semu karena didorong oleh sektor-sektor yang tidak riil seperti pasar uang, pasar modal dan produk-produk keuangan lainnya yang menggelembung. Bayangkan jika masyarakat terkonsentrasi mencari nafkah lewat hal-hal yang tidak riil sedangkan fundamental ekuitasnya sendiri tidak bertumbuh. Dapat dilihat bahwa tumbuhnya sektor finansial hanya berupa ekspektasi pasar yang tidak bisa dibuktikan secara empiris. Alhasil saat ini bayang-bayang PHK massal dan gejolak ekonomi lainnya membayangi negeri ini.
Seperti yang kita hadapi saat ini membuktikan bahwa makro kita memang “bagus” tapi rapuh, hal ini bisa dibuktikan dengan turunnya ekspor pada Q3 2008, depresiasi Rupiah terhadap mayoritas mata uang asing (bukan hanya terhadap USD), cadangan devisa terus tergerus (dalam sebulan turun USD 10-12 Miliar), yield obligasi pemerintah terus naik(berkisar 15-16%), angka pengangguran naik dan kerentanan PHK tinggi, angka kemiskinan ikut naik dan masih banyak lagi.
Ekspor yang secara logika ketika Rupiah terdepresiasi sekitar 30%-an terhadap USD seharusnya produk kita menjadi murah dan menjadi incaran konsumen-konsumen mancanegara, namun yang terjadi adalah anomali.
Depresiasi Rupiah tidak hanya terhadap USD, yang seharusnya tidak terhadap mata uang lain karena fundamental ekonomi Malaysia ataupun Singapura (contohnya) akan lebih terpengaruh dampak krisis karena perbandingan ekspor dengan PDB-nya lebih dari 100% sedangkan Indonesia hanya sekitar 30% sehingga seharusnya ekonomi kita lebih baik dibandingkan mereka, namun lagi-lagi ada ekspektasi yang sulit dibuktikan secara empiris (lihat tabel).
Kemudian cadangan devisa yang pernah mencapai lebih dari USD 60-an Miliar terpaksa dipakai guna melakukan intervensi terhadap Rupiah dan membiayai impor yang nominalnya lebih besar dibanding ekspor. Yield Obligasi Pemerintah naik, dengan ditariknya dana-dana investor kembali kepada negara asalnya dikarenakan angka depresiasi Rupiah diekspektasi masih terlalu rawan untuk dipegang sebagai investasi, contoh konkretnya ketika SBI digunakan sebagai instrumen praktik carry trade dengan imbal hasil 8 - 9,5 % namun terjadi depresiasi mata uang Rp terhadap USD mencapai 30%-an membuat investor rugi. Maka kondisi berisiko tersebut dinilai investor harus dikompenasi dengan kenaikan risk premium. Pengangguran, PHK dan kemiskinan merupakan multiplier effect dari kejadian-kejadian makro di atas.
Membangun Sektor Riil yang berkualitas
Mengamati kondisi-kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa mikro ekonomi yang tidak berjalan semulus dengan kondisi makro ekonominya. Satu hal yang menjadi sangat krusial dalam membangun perekonomian kita adalah membangun sektor riil secara berkesinambungan. Karena sektor riil merupakan fondasi paling kuat guna membangun sistem perekonomian suatu negara dan seharusnya sektor keuangan hidup dengan mendukung sektor riil dan bukan sebaliknya.
Kondisi sektor riil yang diharapkan dapat tumbuh secara berkesinambungan harus berguguran di tengah ketatnya persaingan. Empat aspek yang perlu dicermati guna pengembangan sektor riil yang berkesinambungan yaitu Pertama, aspek efisiensi, dimana efisiensi merupakan hal yang mutlak dilakukan oleh perusahaan dalam menjalankan usahanya. Pendayagunaan sumber daya secara maksimal dalam meningkatkan produktivitas kerja harus menjadi suatu hal yang penting untuk diperhatikan. Adanya inefisiensi akan menyebabkan kenaikan biaya sehingga konsumen akan mencari produk yang sama dengan kualitas yang sama namun harganya lebih murah, jika hal ini berlanjut akan mengganggu L/R perusahaan yang berbuntut pada kebangkrutan.
Kedua, kreativitas dunia usaha guna menciptakan produk turunan dengan nilai tambah ataupun mendiversifikasi usaha menjadi suatu kunci suatu usaha dapat berjalan langgeng. Berkembangnya dunia baik di sisi sosial budaya maupun teknologi mewajibkan para pelaku usaha untuk terus mengikuti arah tren permintaan pasar.
Ketiga, aspek high cost economy, aspek ini merupakan suatu penyakit yang cukup menakutkan yang terus menghantui produk dalam negeri. Salah satu penyebab produk dalam negeri tidak bersaing dengan produk import karena masih banyaknya praktik-praktik pungli, birokrasi yang ruwet dan struktur fiskal yang tidak bersahabat. Hal ini wajib secara tegas diberantas oleh pemerintah dengan peraturan yang tegas.
Keempat, Miss management, dimana aspek ini merupakan faktor yang murni disebabkan internal perusahaan. Usaha-usaha mikro, kecil dan menengah cenderung mengalami masalah ini. Kontrol terhadap kebijakan-kebijakan manajemen pada usaha mikro, kecil dan menengah cenderung rendah bahkan hampir tidak ada. Kesalahan pemanfaatan kredit perbankan yang tidak sesuai dengan tujuan awal dapat menyebabkan cash flow usaha terganggu. Selain itu manajemen pada usaha mikro dan kecil seringkali melakukan spekulasi terhadap bidang-bidang usaha yang belum pernah digelutinya.
Memaksimalkan Peran Para Pelaku Ekonomi
Keberhasilan membangun sektor riil yang berkualitas seperti yang diimpikan merupakan pekerjaan rumah bagi segenap warga negara dengan memaksimalkan fungsi tugas dan tanggung jawabnya. Pemerintah sebagai regulator diharapkan dengan aparaturnya mampu mensosialisasikan tren bisnis, pengelolaan Sumber Daya dan menetapkan aturan-aturan yang pro pada industri dalam negeri serta menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi UMKM. Penerapan kebijakan secara yang disiplin dengan pengawasan yang ketat mulai dari tingkat pemerintah pusat sampai eksekusi di tingkat RT/RW wajib dilakukan.
Pelaku dunia usaha dapat secara aktif memaksimalkan pencarian informasi, penciptaan kreativitas serta kedisiplinan dalam berusaha guna perkembangan usaha yang sehat. Peran lembaga keuangan baik bank maupun non bank diharapkan menjadi pendorong tumbuhnya usaha. Namun demikian kembali lagi fungsi tersebut harus diimbangi dengan kebijakan fiskal yang tepat pula. Selama ini fungsi intermediasi yang tidak maksimal selalu menjadi kambing hitam perlambatan ekonomi dan kenaikan BI Rate juga menjadi kritik banyak pihak, padahal hal yang lebih diharapkan sebenarnya adalah stimulus fiskal guna terciptanya iklim usaha yang prospektif. Contohnya dalam kondisi saat ini sektor riil pun sulit untuk meningkatkan omset usahanya maka berdampak pada tidak tumbuhnya kebutuhan modal kerja, apalagi untuk melakukan investasi mereka pasti akan berpikir ulang. Tentunya hal-hal tadi menyebabkan penyerapan kredit tidak tumbuh secara maksimal, kalaupun dipaksakan maka kecenderungannya adalah side streaming yang justru akan memperburuk keadaan.
Peran masyarakat sebagai end user dalam kondisi saat ini sangatlah dibutuhkan, penggunaan produk barang dan jasa dalam negeri akan sangat membantu bergeraknya sektor riil. Keadaan yang tidak menentu ini dianalogikan akan terjadi penurunan daya beli masyarakat pada umumnya, namun yang terjadi adalah ramainya mal-mal yang menggelar sale sampai tengah malam. Barang-barang mewah yang mayoritas import dengan harga “wah” (walaupun sudah discount) laris terjual, padahal produk-produk tersebut mampu diproduksi di dalam negeri. Image produk yang kuat dan kualitas serta desain yang menarik membuat masyarakat rela mengeluarkan koceknya untuk mendapatkan barang tersebut. Maka industri dalam negeri harus mampu menjawab kebutuhan pasar, contohnya pada industri pakaian jadi untuk remaja, pada sekitar tahun 1990-an dibanjiri oleh produk-produk import yang harganya mahal, seiring dengan melambungnya USD terhadap Rupiah munculah produsen-produsen pakaian jadi dan asesoris remaja dalam negeri yang mampu menjawab kebutuhan konsumen. Kasus ini membuktikan bahwa produk yang berkualitas dan dikemas menarik mampu mengikis branded image di kalangan masyarakat. Kesuksesan kampanye kecintaan terhadap produk dalam negeri harus diikuti oleh peningkatan kualitas barang dan jasa dalam negeri.
Catatan Akhir
Sumber daya alam yang melimpah dengan cadangan minyak mencapai 8,4 miliar barel (akan habis selama 24 tahun dengan asumsi produksi saat ini skitar 925.000 barel/hari), cadangan batu bara mencapai 18,7 miliar ton (akan habis dalam 75 tahun dengan asumsi produksi saat ini 250 juta ton pertahun), cadangan gas alam mencapai 165 trilyun standar kubik dan kekayaan pertambangan lainnya serta kekayaan agraria dan bahari. Sumber daya tadi didukung dengan potensi pasar dalam negeri yang masih sangat luas yaitu 240 juta jiwa orang Indonesia sehinga semuanya itu merupakan modal dalam pengembangan sektor riil. Mensinkronisasikan kurva fungsi penawaran dan permintaan dalam negeri akan menjadi panduan menuju pertumbuhan yang berkualitas. Cita-cita itu hanya bisa terjadi jika seluruh stakeholder mampu menjalankan perannya secara konsisten, bertanggung jawab dan berkesinambungan.
10 Desember 2008
Oleh : Andreas Hassim,
Junior Staf 1
Bagian Pembinaan Evaluasi & Monitoring
Divisi Kredit Konsumer
Daftar Pustaka
A Prasentyantoko, Bencana Finansial, Kompas Penerbit Buku, 2008
Adrianus Mooy, Pesan dari Krisis AS, Artikel Kompas 13 November 2008
Statistik Ekonomi Moneter Indonesia, Bank Indonesia
Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia, Bank Indonesia
Artikel Kompas tgl 9 Des 2008, Menuju Negara Pertanian Termaju di Dunia oleh Hermas E Prabowo
Artikel Kompas tgl. 9 Desember 2008, Godot Itu Bernama Kedaulatan Energi, oleh Doty Damayanti
www.bi.go.id
www.bps.go.id
www.depkeu.go.id
www.esdm.go.id
Danareksa research
Senin, 23 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar