Bagian 3 : Pemimpin Sejati lanjutan I Have a Dream
Oleh:Andreas Hassim, seorang pemimpi
Alkisah seorang raja yang bijaksana yang memiliki kerajaan yang sangat luas. Pada suatu ketika, semua anak muda di kerajaan tersebut dikumpulkan untuk mengikuti sayembara guna memilih yang terbaik di antara mereka untuk menjadi asisten pribadi raja. Dengan sangat antusias semua anak-anak muda berkumpul di alun-alun kerajaan untuk mengikuti sayembara tersebut. Dengan berbagai tahapan seleksi yang telah dilakukan maka tersisa 3 orang pemuda yang cerdas, tangkas dan gagah berhasil mencapai babak final. Pada babak final ini sang raja berkata bahwa masing-masing dari kalian bertiga akan diberikan sebuah bibit pohon beringin yang siap untuk ditanam. Tugas 3 pemuda tersebut adalah menanam bibit tersebut dan merawatnya dengan pupuk hingga tumbuh. Barangsiapa yang memiliki pohon yang paling subur dan tinggi dari bibit ini dalam waktu enam bulan maka dialah yang akan menjadi pemenangnya. Masing-masing dari mereka pulang dan menanam dalam potnya masing-masing. Seorang di antara mereka bersungguh-sungguh menanam bibit tersebut dan menyiraminya serta memberikan pupuk yang berkualitas. Kesungguh-sungguhan anak muda ini tak dapat diragukan karena siang dan malam yang bersangkutan senantiasa berpikir bagaimana cara terbaik memelihara pot dengan bibit tersebut. Tapi alangkah sedihnya pemuda ini karena setelah sekian lama dengan usaha optimal, bibit tersebut tak kunjung tumbuh bahkan muncul tunas pun tidak.
Waktu enam bulan pun tak terasa telah berlalu dan sesuai instruksi raja dlam sayembara maka 3 orang tadi kembali ke kerajaan dengan membawa hasil pemeliharaan bibit mereka kepada raja. Seorang di antara mereka menunjukan hasil yang cukup baik karena pohon beringinnya telah tumbuh sekitar 1,5 meter. Sedangkan yang satu lagi pohon beringinnya tumbuh dengan tinggi kurang lebih sama dengan yang pertama namun daunnya lebih lebat. Namun si pemuda yang terakhir dengan wajah merah karena olok-olokan dari rakyat yang menonton, membawa pot dengan tanah yang kosong karena usahanya gagal membesarkan si bibit tersebut.
Melihat hasil 3 orang pemuda ini sang raja pun tertawa gembira karena dia telah menemukan seorang calon pemimpin muda yang cerdas dengan integritas yang teruji. Maka pemuda yang potnya tidak ditumbuhi oleh pohon tersebut dinobatkan sebagai pemenang. Serentak rakyat yang menyaksikan terkesima dan memprotes keputusan sang raja.
Sang raja yang bijak pun kemudian menjelaskan bahwa bibit yang diberikan kepada 3 pemuda tersebut adalah bibit yang telah digoreng dan dapat dipastikan bahwa bibit tersebut tak akan pernah tumbuh walaupun dengan perawatan yang super sekalipun. Sang raja pun menjelaskan 3 orang pemuda tersebut telah melewati proses seleksi yang super ketat dan mereka adalah yang terbaik di kerajaannya itu namun sang raja ingin menguji integritas calon-calon pemimpin itu. Maka hari itu juga sang raja menobatkan si pemuda itu sebagai asistennya dan menghukum 2 orang lainnya karena telah berusaha membohongi sang raja.
Menyikapi Sikap Apatis
Kisah di atas membawa pesan moral bahwa terlalu banyak orang pintar namun sangat sedikit orang pintar yang punya integritas yang tinggi. Pemilu Presiden 3 hari lagi akan dilaksanakan yaitu pada tanggal 8 Juli 2009. Suatu peristiwa yang sangat menentukan wajah bangsa ini 5 tahun ke depan apalagi tak tanggung-tanggung anggaran untuk Pemilu mencapai Rp 25 T. Oleh karena itu pesta demokrasi sebaiknya janganlah kita sia-siakan, kita diberikan kesempatan untuk menetukan nasib kita 5 tahun ke depan. Berulangkali saya mendengar sikap apatis teman-teman lewat perbincangan, mailing list, email, sms, facebook dll. Mereka mengatakan tidak ada yang layak jadi pemimpin, semua sama saja dan buat apa saya memilih jika saya tahu kesemua calon memiliki kualitas yang buruk. Pertanyaan saya kepada mereka yang apatis tadi adalah: apakah Anda seorang yang sempurna sehingga anda tidak memiliki cacat dan apakah anda lebih baik dari mereka?
Ada dua pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada Anda yang apastis pertama, Apakah dalam menjalankan kehidupan sehari-hari Anda sudah layak dikatakan orang baik. Saya jadi teringat dosa-dosa saya yang beruntungnya Tuhan tidak menghukum saya tapi selalu memberikan kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya untuk memperbaiki hidup saya.
Kedua, apakah sikap Anda sudah bermanfaat untuk orang lain? Ya lagi-lagi saya malu ketika saya mencibir seorang pengemis di depan wajah saya, lalu ketika saya naik Transjakarta saya selalu cuek kepada orang tua yang berdiri di muka saya, ketika antrian Transjakarta pun berulangkali saya berusaha menyalip orang lain secara tidak sopan, ataupun ketika naik motor saya dengan egois memotong jalan orang sementara pasti mengumpat ketika orang lain memotong jalan saya. Ataupun ketika teman sebelah bangku kerja saya berhasil, kok saya malah mencibir, dan berkata dasar penjilat makanya dapat pujian dari si Bos. Sikap sirik yang berkonotasi ketidakmampuan kita selalu muncul di tengah kesuksesan orang-orang di sekitar kita.
Hal-hal tadi membuat saya sadar bahwa saya adalah seorang oportunis, saya jadi teringat film SOE HOK GIE, dimana Gie adalah seorang aktivis yang aktif mengkritisi pemerintah namun tak pernah mau berkutat pada himpunan kemahasiswaan yang ditunggangi kaum oposisi yang oportunis, hasilnya ketika mahasiswa mampu meruntuhkan orde lama, kawan-kawan aktivisnya mentertawai karena Gie tidak memanfaatkan momentum itu untuk mendapatkan suatu jabatan ataupun pekerjaan di pemerintahan selanjutnya. Tak dapat dipungkiri bahwa pejabat-pejabat orde baru yang menurut orde reformasi sebagai orde paling KKN adalah aktivis pengkritik orde lama dan sepertinya tak etis disebutkan selain itu saya yakin database dan memory Anda sudah cukup untuk mengetahuinya. Dan jangan-jangan saya bisa seperti mereka ataupun lebih gila dari itu dengan memanfaatkan segala sesuatunya untuk kepentingan pribadi ketika kesempatan itu mampir.
Bukankah ini realitas keseharian yang kita hadapi? Egosentris dan selalu merasa paling baik dan sempurna?
Memadukan Kekuatan Calon Pemimpin kita 5 tahun mendatang
Ketika saya membaca media massa atau menonton teve ataupun mendengar radio mengenai biodata 3 pasangan capres dan cawapres, saya amat tercengang dengan latar belakang mereka. Kesimpulannya mereka adalah orang hebat, ya mereka ada yang lulusan terbaik AKABRI, lulusan Wharton Business School yang notabene salah satu universitas terbaik di dunia, kemudian beberapa dari mereka adalah pengusaha sukses dengan berbagai kemahiran lainnya. Sedangkan saya hanya ST (Sok Tahu , hahaha).
Tak dapat dibayangkan jika kekuatan dan kelebihan 3 calon tersebut disatukan pastinya akan menghasilkan hal-hal yang luar biasa. Mari kita bahas kelebihan mereka masing-masing, incumbent dengan jargon LANJUTKAN, ya mereka telah berhasil membuat iklim teror bom lenyap ketika masanya bahkan titik terang penangkapan dan pengeksekusian para pelaku teror bom berhasil terlaksana, pemberantasan korupsi melalui KPK, pengelolaan ekonomi makro yang stabil ditengah terpaan krisis global.
Sedangkan calon lain mengetengahkan ekonomi kerakyatan yang katanya memadukan konsep pasar bebas (neoliberalisme) dengan sosialis, kemudian isu pengelolaan devisa yang lebih akurat yang mengganggap saat ini terlalu bebas mengakibatkan kebocoran devisa mencapai USD 240 M, penjadwalan utang, perkebunan aren yang menyedot lapangan kerja luar biasa, pemberdayaan petani, nelayan dan pedagang pasar tradisional sebagai fundamental perekonomian.
Lain halnya calon lainnya yang juga dapat dikatagorikan incumbent berjanji akan lebih cepat lebih baik dari hasil yang saat ini dicapai, kemudian menjanjikan program pembiaayaan bagi pemuda dan masyarakat dalam memberdayakan usaha mikro kecil dan menengah, menciptakan iklim investasi yang menarik bagi pengusaha dan program menggunakan produk dalam negeri dengan mewajibkan batik sebagai pakaian kerja dan beberapa program yang saya nilai kreatif dan realistis.
Kalau kestabilan keamanaan yang di dukung dengan program ekonomi kerakyatan, iklim investasi yang kondusif kemudian penegakan hukum yang tegas terhadap KKN serta dilaksanakan secara cepat maka tak ayal lagi negara kita pasti akan jauh-jauh lebih baik. Jadi kuncinya adalah siapa pun yang terpilih adalah putera/puteri terbaik bangsa ini dan mereka akan sempurna jika mau menginterospeksi dirinya untuk memadukan konsep-konsep tadi.
Nasib Kita di Tangan Kita Sendiri
Seorang teman kemudian bertanya, ”Memang nasib gue bakalan berubah kalo pemerintahnya si Anu?” Jawab teman di samping saya : “Tidak, nasib lo bukan ditentukan orang lain, bukan juga oleh garis tangan, apalagi bentuk tandatangan, tapi ditentukan seberapa hebat elo memanfatkan tangan lo!”. Dalam hati saya spontan berkata “setuju!”. Mengapa banyak orang menjadi miskin atau gagal kemudian menyalahkan pemerintah. Ini suatu hal yang gak masuk akal, buat saya pemerintah hanya mempengaruhi 10-20% dengan kebijakan yang mereka buat sedangkan sisanya bergantung pada diri kita sendiri. Walaupun hanya 10-20% namun karena yang dipengaruhi adalah sebanyak 240 juta manusia sehingga hal ini sangat signifikan. Namun euforia demokrasi janganlah sampai mengkambinghitamkan pemerintah di setiap kegagalan dan kemiskinan.
Mengapa banyak kuli bangunan seumur-umur menjadi kuli ataupun tukang baso keliling sampai matinya jadi tukang baso padahal tidak sedikit kuli yang sukses menjadi kontraktor ataupun tukang baso yang punya banyak cabang di berbagai ruko. Ada beberapa alasan orang tidak pernah maju yaitu pertama, malas sehingga selalu berpikir rejeki sudah ada yang ngatur, betul tapi di atur sesuai dengan usahanya, bahkan di salah satu kitab tertulis bahwajika seorang tidak bekerja janganlah ia makan. Kedua cepat puas, banyak pedagang keliling yang sudah merasa cukup jika dapat memberi makan keluarganya tanpa semangat ekstra untuk tidak hanya memberi makan tapi meningkatkan kualitas hidup keluarganya. Ketiga adalah sifat konsumerisme, ya banyak kita temui petani sukses di Pantura yang yang kemudian poligami kemudian jatuh bangkrut, kemudian banyak pejabat yang ketika pensiun meninggalkan banyak utang tanpa memiliki aset karena terlena gaya hidup hedonis, ataupun keluarga muda yang terlilit kartu kredit.
“Saya jadi bertanya bagaimana ya nasib bangsa ini jika mayoritas (rata-rata orang Indonesia) seperti saya yang malas, cepat puas dan konsumerisme?” “Pasti isinya orang-orang yang rajin mengeluh tanpa karya tapi masih untung tidak semua orang Indonesia seperti saya. Bagaimana dengan Anda?
Tak terbanyangkan jika standardnya orang Indonesia seperti idola saya macam Pak Kwik, Bu Mulyani atau Pak Barack Obama. Wow pasti akan meLANJUTKAN tradisi MACAN ASIA dengan LEBIH CEPAT LEBIH BAIK!
Ilustrasi dan gambaran realitas kehidupan di atas saya tujukan untuk mengajak teman-teman untuk berpikir ulang untuk menjadi Golongan Putih. Ya itu memang hak Anda, tapi apakah Anda bangga kalau golongan putih menang? Kemudian yang terpilih seorang yang membawa bangsa ini kepada kemunduran (saya berharap tidak pernah terjadi), apakah Anda merasa bahagia karena puas tidak memilih siapa pun? Apakah Anda puas dengan kemenangan Golput sementara bangsa ini terus didera masalah karena ketidakmampuan si pemimpin. Saya sangat berharap hal ini tidak pernah terjadi oleh karena itu marilah kita tentukan nasib kita bersama 5 tahun ke depan dengan mendatangi TPS dan mencontreng satu pasangan calon pada tanggal 8 Juli nanti. Satu pasang calon yang kita yakini dengan nurani dan hasil dari istiqarah yang terbaik untuk dapat membawa bangsa ini kepada kejayaannya.
Sebagai penutup kepada calon pemimpin dan tim sukses beserta pendukungnya (sepertinya hanya pendukungnya yang paling mungkin membaca tulisan ini, hehe) siapkanlah mental Anda untuk menerima apapun hasil pemilu. Bersikaplah sportif dalam menerima kekalahan bukan sebaliknya dengan menyebar isu kecurangan sistemik padahal tidak pernah secara sistemik terbukti atau dibuktikan. Percayalah bahwa incumbent tentunya akan berusaha maksimal dalam mempersembahkan Pemilu di nujung masa jabatannya apalagi DPR/DPRD serta kepala-kepala daerah berasal dari multipartai yang seharusnya penuh dengan fungsi cek dan ricek, kalaupun ada indikasi kecurangan segera buktikan sebelum semuanya dimulai.
Saya sebagai seorang swing voter mengucapkan selamat berpikir bagi swing voter lainnya dalam menentukan pilihan mencontreng, tapi Jangan Kelamaan, hahaha. Selamat mencontreng temans. Merdeka...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar